Sabtu, 29 Juni 2013

Jika Satrio Piningit Muncul

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

JIKA SATRIO PININGIT MUNCUL

أَلَمْ تَرَ‌ إِلَى الْمَلَإِ مِن بَنِي إِسْرَ‌ائِيلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ ۖ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ 

أَلَّا تُقَاتِلُوا ۖ قَالُوا وَمَا لَنَا أَلَّا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ وَقَدْ أُخْرِ‌جْنَا مِن دِيَارِ‌نَا وَأَبْنَائِنَا ۖ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۗ وَاللَّـهُ عَلِيمٌ 

بِالظَّالِمِينَ 

 وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّـهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ 

اللَّـهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّـهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّـهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: "Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah". Nabi mereka menjawab: "Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang". Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?". Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim. Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah 2: 246-247)


   Salah satu hikmah mengapa Al Qur'an banyak sekali menceritakan kisah- kisah umat terdahulu adalah supaya kita bisa mengambil pelajaran untuk menghadapi masa kini maupun masa depan kita. Tidak dipungkiri bahwa sejarah selalu terulang, meskipun tidak sama persis. Tapi bisa dikatakan skenarionya tidak jauh berbeda.
   Demikian pula kisah di atas. Kebetulan saya mempunyai kesempatan berinteraksi dengan kaum muslim dari beberapa negara, India, Pakistan, Syiria, dan beberapa lagi. Bagi mereka yang peduli dengan kondisi umat Islam di dunia saat ini, ada beberapa hal yang sama yang muncul setiap ngobrol dengan tiap- tiap orang. Dan jika saya cermati, maka point- pointnya tidak jauh berbeda dengan kisah di atas.

Umat Islam sekarang ini dalam kondisi lemah.
   Kekacauan- kekacauan yang terjadi di beberapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, tak lepas dari campur tangan negara- negara kafir yang tidak menyukai Islam. Bahkan jika kita tengok di dalam negeri, setiap ada konflik antar agama, maka pertama kali yang ditunjuk sebagai tersangka adalah pihak Muslim. Begitu juga ketika ada kasus teror atau pengeboman, segera pihak- pihak yang tidak menyukai Islam menunjuk ke pihak Muslim. Ini membuktikan bahwa posisi umat Islam saat ini sangat lemah sehingga dengan mudahnya menjadi bulan- bulanan pihak kafir.
   Maka tidaklah berlebihan jika kisah di atas bisa disamakan dengan kondisi Umat Islam sekarang ini. Pada kisah di atas ketidakberdayaan Bani Israil tercermin dalam kalimat: Mereka menjawab: "Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?".

Umat Islam menginginkan persatuan antar Muslim sedunia di bawah satu komando.
   Orang- orang yang sempat berdikusi dengan saya selalu melontarkan hal yang sama, bahwa saat ini umat Islam lemah karena tidak adanya persatuan antara sesama Muslim sendiri. Mereka yakin bahwa jika Umat Islam sedunia bisa bersatu, maka tidak akan ada yang berani macam- macam dengan Umat Islam, baik secara individu maupun dalam skala negara.
   Jika kita simak keyakinan mereka ini, maka ini sungguh cocok dengan keyakinan pemuka- pemuka Bani Israil itu. Hasil analisa mereka menyatakan bahwa kelemahan mereka disebabkan mereka tidak mempunyai pemimpin yang kompeten untuk memimpin mereka. Mereka yakin jika mereka mempunyai raja yang kompeten, maka mereka akan bisa mengalahkan musuh yang menindas mereka. Maka dari itu, mereka meminta kepada nabi mereka supaya dipilihkan seorang raja yang mampu mempersatukan mereka, dan memimpin mereka dalam menghadapi penindas.

* * * * *

   Jika memang kondisinya sudah sama, maka mari kita coba mengambil pelajaran dari kisah di atas untuk menghadapi kondisi sekarang dan masa depan kita.

Pemimpin tidak harus yang populer atau berkedudukan tinggi (kaya).
   Nabi mereka mengangkat Thalut atas kehendak Allah untuk menjadi pemimpin mereka. Di mata mereka, Thalut bukanlah siapa- siapa. Dia hanya seorang miskin dan bukan berasal dari keluarga terhormat. Namun, syarat untuk menjadi pemimpin bukanlah itu, tapi pemimpin hendaknya mempunyai ilmu yang luas dan karena dia juga merangkap menjadi panglima perang, maka diapun disyaratkan mempunyai fisik yang kuat, meskipun bukan yang terkuat. 
  Maka, sangat mungkin salah jika kita memilih pemimpin hanya karena kepopulerannya, hanya karena kekayaannya, atau karena dia berasal dari keluarga yang terhormat. Apalagi hanya karena sebelum memilih mendapat amplop.... Pemimpin se,acam itu, yang tidak punya kemampuan memadai, tidak akan sanggup mengentaskan umatnya dari krisis, bahkan mungkin semakin menenggelamkan.

Tidak mundur jika pemimpin memberi perintah.
   Kewajiban dari bawahan adalah mematuhi pimpinan. Ini paten, di manapun, baik di pemerintahan, kemiliteran, atau di tempat kerja. Pengecualian hanya jika pemimpin menyuruh berbuat maksiat. Tapi apa yang terjadi dalam kisah di atas? Banyak yang mundur ketika pemimpin mereka memerintahkan sesuatu yang berat, dalam hal ini berperang. Padahal mereka sendirilah yang meminta dipilihkan pemimpin untuk berperang. Maka orang- orang semacam ini diberi stempel zhalim oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . 
* * * * *

   Di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, kita sudah akrab dengan istilah Satrio Piningit. Dia diyakini akan mampu memimpin umatnya untuk bangkit dan membawa kejayaan. Jika kita kaitkan dengan kondisi Umat Islam saat ini yang sedang mencari pemimpin, rasanya istilah Satrio Piningit ini bisa kita gunakan untuk menjuluki pemimpin kita nanti. Tapi sebelumnya kita jauhkan embel- embel suku, ras, bangsa, dan sebagainya, karena kelak kepemimpinannya bersifat global, tidak hanya di suatu area yang sempit saja.
   Hanya saja yang jadi pertanyaan, sudah siapkah kita mengikuti (sendika dhawuh/ sami'na wa'atho'na) kepada Sang Satrio Piningit kelak? Jangan- jangan ketika pemimpin yang tadinya kita harap- harapkan benar- benar datang, kita malah mengingkarinya. Maka dari itu, kita harus menyiapkan diri kita sendiri, keluarga, dan siapa saja yang mampu kita ajak untuk bersiap- siap jika waktunya datang. Saya sangat meyakini bahwa hal ini pada saatnya akan terjadi. Maka yang harus kita persiapkan adalah:

  1. Mengenali kriteria pemimpin yang kompeten dengan jabatannya. Jelas nantinya akan banyak calon pemimpin yang muncul. Maka kuncinya adalah jika sang pemimpin menyandarkan segala permasalahan kepada Al Qur'an dan Sunah (QS 4: 59), maka dialah pemimpin yang wajib kita ikuti. Jangan sampai kita salah dalam menyikapi, ketika muncul pemimpin yang haq kita tidak mengikutinya, atau sebaliknya saat ada pemimpin yang mengusung sistem dajjal kita malah tertipu dan mengikutinya.
  2.  Patuh dan taat kepada pemimpin yang haq meskipun berat. Kita harus menyiapkan mental kita untuk menaati perintah pemimpin. Ini sangat berat, makanya kita harus bersiap sejak dini. Dan batas untuk ditaatinya jelas, yaitu tidak menyuruh kepada maksiat. Jangan sampai stempel zhalim dari  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menempel pada kita.
   Namun seperti kisah yang tertulis di awal tulisan, maka kelak yang terjadi adalah banyak Umat Islam yang tidak mengikuti pemimpin ini. Dan hanya sedikit saja yang mau mengikutinya. Ini yang saya yakini sebagai sejarah akan terulang kembali. Tapi sedikitnya jumlah Umat Islam yang mau bersatu tidak menghalangi untuk mencapai kejayaan. Karena barang siapa yang bersedia menaati pemimpinnya meskipun printahnya sangat berat, maka bisa diukur bahwa kualitasnya sangat tinggi. Ini yang dibuktikan oleh Bani Israil saat itu. Dengan jumlah yang sedikit mereka mampu mengalahkan tentara penindas yang dipimpin oleh Jalut, manusia yang sangat perkasa. Dan bahkan mampu menurunkan generasi yang sangat hebat, terbukti di kemudian hari muncul kerajaan yang tiada banding yang dipimpin oleh Sulaiman.

Allahu a'lam bishshawab.


Jumat, 28 Juni 2013

Kala Bersedekah Menjadi "Pesugihan"


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

KALA BERSEDEKAH MENJADI "PESUGIHAN'

   Tentu kita, terutama yang berasal dari Suku Jawa, sudah akrab dengan istilah "pesugihan". Seseorang yang karena hidupnya sengsara dalam kemiskinannya, dan tidak kuat lagi menanggungnya, maka jalan pintas yang diambil adalah memelihara pesugihan. Banyak macam pesugihan, antara lain tuyul, babi ngepet, kandang bubrah, jaran pinoleh, sampai pada tokoh Nyi Blorong. Semua jenis pesugihan itu disyaratkan mempersembahkan tumbal, umumnya berupa jiwa, baik diri sendiri maupun orang lain. Semua sudah sepakat bahwa hal ini adalah sesat, dan semua juga meyakini bahwa setelah si pelaku pesugihan meninggal, maka arwahnya akan sengsara.
   Dari dahulu sampai sekarang, memang menjadi salah satu keinginan manusia untuk menjadi kaya. Sayangnya banyak orang yang menginginkannya secara instan. Tidak peduli halal atau haram, masuk akal atau tidak, mereka menginginkan menjadi kaya. Maka banyak orang yang justru memanfaatkan orang- orang semacam itu, misalkan orang yang mengklaim bahwa dia bisa melipatgandakan uang. Atau menyediakan semacam jimat atau mantra- mantra supaya rejeki lekas datang. Pada akhirnya tidak sedikit yang tertipu. Setelah menyerahkan uang yang cukup banyak, atau membayar tarif yang lumayan mahal, akhirnya kecele, uang hilang dan tidak dapat ganti.
   Banyak juga yang sadar bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan dosa, tapi toh tetap ingin kaya dengan cara instan. Lalu, akhirnya mereka mendapat alternatif yang bukan hanya tidak dosa tapi malah mendapat pahala (katanya) dan bisa membuat mereka kaya. Ditambah lagi sudah banyak yang membuktikan. Apa itu?
   Setiap kali saya pergi ke toko buku, banyak saya temukan buku yang mengulas cara mendapatkan rizqi dengan cara bersedekah. Silahkan anda cek ke toko buku manapun, ke bagian Agama Islam, niscaya anda akan menemukan bermacam- macam judul buku yang kira- kira temanya "Kedahsyatan Sedekah", atau "Dengan Sedekah Menjadi Kaya", dan semacamnya. Selain itu beberapa kali saya terlibat perbincangan dengan tema yang sama, entah sumbernya dari ceramah, membaca atau melihat video di internet.
   Apakah memang sedekah bisa membuat pelakunya menjadi kaya? Jawabannya jelas: YA.  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  sendiri yang menjamin. Ini tertuang salah satunya dalam Surat Al Baqarah ayat 276:

  يَمْحَقُ اللَّـهُ الرِّ‌بَا وَيُرْ‌بِي الصَّدَقَاتِ ۗ وَاللَّـهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ‌ أَثِيمٍ

  Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS Al Baqarah 2: 276)

Dari ayat di atas bisa diartikan bahwa barang siapa yang bersedekah, maka اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  akan menyuburkan/ menjadikan yang disedekahkan itu berlipat ganda. Jadi memang tidak salah bahwa dengan bersedekah maka dia akan mendapat balasan yang berlipat- lipat. Jadi apa dong permasalahannya?

 
Melipatgandakan uang.
   Yang jadi masalah adalah ketika orang yang bersedekah mengharapkan balasan yang lebih banyak (di dunia), atau sedekahnya sebagai jalan agar cita- cita atau keinginannya tercapai. Jelas ketika orang menginginkan dirinya kaya, berarti dia bersedekah untuk mendapat balasan yang lebih banyak, dan bisa dikatakan bukan karena Allah. Mari kita renungkan Al Qur'an Surat Al Muddatsir ayat 6 berikut:

  وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ‌
 
  dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.  

Nah, sudah jelas larangannya. Jika bermaksud untuk mendapat balasan yang lebih banyak, maka niat lillahi ta'ala-nya hilang. Tapi sudah banyak bukti bahwa dengan bersedekah orang- orang itu menjadi kaya, atau tercapai keinginannya, paling tidak mendapat ganti yang berlipat- lipat! Berarti diterima dong sedekahnya oleh  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى! Ya, tentu sedekah mereka tidak akan sia- sia begitu saja, baik lillahi ta'ala maupun bukan, tetap saja janji اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sudah tetap dan Dia tidak pernah mengingkari janji. Tapi ada baiknya kita renungkan Al Qur'an Surat Asy Syura ayat 20 berikut:

 مَن كَانَ يُرِ‌يدُ حَرْ‌ثَ الْآخِرَ‌ةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْ‌ثِهِ ۖ وَمَن كَانَ يُرِ‌يدُ حَرْ‌ثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَ‌ةِ مِن نَّصِيبٍ

Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (QS Asy Syura 42: 20)

Jelas sekarang bahwa memang اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  memberi balasan kepada orang yang bersedekah karena menginginkan balasan di dunia, namun balasan itu hanya sebagian keuntungannya saja, bukan semuanya, sedangkan di akherat (pahala) ia tidak mendapat sama sekali. 
    Memang betul dengan bersedekah maka hidup akan lebih baik, tapi jika niatnya bukan lillahi ta'ala, maka tidak ada pahala baginya sedikitpun. Jangan sampai amal mulia kita justru menjadi seperti "ngingu pesugihan" atau upaya melipatgandakan uang. Bedanya yang ini tidak berdosa dan tanpa tumbal. Dan dari renungan di atas maka sedekah semacam ini tidak bisa dikatakan mendapat pahala. Sungguh sangat disayangkan jika nanti di akherat kita tidak mendapatkan balasan sedekah kita. Sedangkan bagi yang bersedekah dengan niat lillahi ta'ala, ikhlas, tanpa mengharap suatu balasan, maka untuknya balasan/ keuntungan di dunia dan di akherat. Mungkin saja kelihatannya dia tidak mendapat balasan di dunia, tapi siapa tahu balasannya nanti dibayar kontan di akherat.
   Ada kisah seseorang yang bersedekah dari hasil menjual HP bututnya kemudian merasa mendapat keuntungan/ balasan sampai miliaran rupiah, maka jika dia niatnya lillahi ta'ala, maka bisa kita bayangkan bahwa uang miliaran itu hanya sebagian saja, bagian yang lebih besar lagi masih akan diterima di akherat, betapa besarnya!  
   Namun satu lagi kaidah bersedekah supaya tidak hapus keuntungan kita di akherat, yaitu seperti yang tercantum dalam Al Qur'an Surat Al Insan ayat 9:

  إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّـهِ لَا نُرِ‌يدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورً‌ا

Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. 

Jika mengharapkan ridha dari  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  maka mestinya kita tidak mengharap balasan, bahkan sekedar mengharap ucapan terima kasihpun akan membatalkan keridhaan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .

Allahu a'lam bishshawab. 

  

Minggu, 12 Mei 2013

Joko Bodho Bicara Tentang Penciptaan Alam Semesta





بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

JOKO BODHO BICARA TENTANG PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

   Dalam legenda Jawa, Joko Bodho adalah seorang anak yang memiliki IQ rendah, sehingga selalu salah dalam memahami segala sesuatu. Namun di sini saya menyebut diri sebagai Joko Bodho tidak separah tokoh dalam legenda tersebut. Saya hanya mengakui bahwa diri saya sangat bodoh, sehingga pantas diberi panggilan Joko Bodho. Jadi tulisan berikut adalah hasil pemikiran orang bodoh yang hanya sedikit mengetahui teori- teori modern.

Penciptaan Alam Semesta Tidak Memerlukan Bahan Baku

   Bilangan 0 (nol) adalah penemuan besar yang dicapai oleh manusia. Angka ini mempunyai banyak fungsi, antara lain membatasi banyaknya angka yang dipakai sehingga menjadi 10 angka saja (yaitu 1,2,3,4,5,6,7,8,9, dan 0 itu sendiri). Sebelumnya untuk menyatakan bilangan milyaran, manusia membutuhkan banyak sekali angka/ simbol. Selain itu, angka 0 juga menunjukkan ketiadaan. Segala sesuatu yang tidak ada bisa dilambangkan dengan angka 0 ini. Jadi, jika saya mengatakan bahwa alam semesta diciptakan tanpa bahan baku, maka bisa saya bilang bahwa alam semesta diciptakan dengan bahan baku 0.
   Kita lihat rumus sederhana berikut ini:

  • 1 + (-1) = 0, sama saja jika kita menulis:
  • 100 + (-100) = 0, atau apapun angkanya:
  • 36719703 + (-36719703) = 0
Mungkin anda bertanya- tanya, apa hubungannya angka- angka di atas dengan penciptaan alam semesta? Tentu anda pernah mendengar, atau bahkan tahu persis mengenai teori anti materi atau anti partikel bukan? Anti materi merupakan lawan dari materi itu sendiri. Dalam teori ini, jika materi bertemu dengan anti teori yang pas, maka materi itu akan hilang, atau lenyap, atau dalam bahasa kita di sini, menjadi 0. Kemana perginya? Menurut teori itu materi itu berubah menjadi energi. Nah, jika energi bertemu dengan anti energinya, berubah jadi apa lagi? Yang jelas apapun hasilnya, jika dipertemukan dengan antinya, maka akan lenyap alias jadi 0.
Lalu kita lihat persamaan di bawah ini:

  • 0 = 1 + (-1), sama saja jika kita menulis:
  • 0 = 100 + (-100), atau apapun angkanya:
  • 0 = 36719703 + (-36719703)
Lho, bukannya sama saja dengan yang sebelumnya? Ya, betul, cuma di sini angka 0 nya ada di depan. Maksudnya adalah, persamaan sebelumnya menggambarkan bahwa materi yang bertemu anti materinya akan menjadi 0. Di sini, dari angka 0, Sang Pencipta bisa 'seenakNya' menciptakan segala sesuatu, dengan menciptakan antinya juga. Maka, jika Dia berkehendak, amat mudahlah Dia melenyapkannya.
   Suatu saat, saya meminjam uang dari bank. Uang ini cukup untuk membeli sebuah mobil sedan baru. Padahal sesaat sebelum pinjaman itu cair, uang saya jauh dari cukup untuk membeli mobil itu. Lha terus dari mana datangnya uang ini? Ternyata saldo saya di bank jika disumarykan hasilnya adalah minus... Ini yang ada dalam pikiran Joko Bodho.

Memikirkan Terjadinya Pelangi

   Pada jaman legenda Joko Bodho dulu, pelangi dianggap sebagai jalan bidadari yang mau turun ke bumi. Sekarang kita tahu bahwa pelangi adalah hasil dari pembiasan cahaya matahari oleh butiran- butiran air. Joko Bodho melihat pelangi tidak sekedar untuk menikmati keindahannya.
Pelangi. Sumber foto: wikipedia.org
  Jika memang pelangi yang warnanya bermacam- macam dan sangat indah itu berasal dari cahaya matahari yang tidak berwarna, maka sangat menarik jika kita hubungkan dengan penciptaan alam semesta ini. Seolah- olah pelangi yang merupakan bagian kecil dari alam semesta ini menggambarkan (dengan penuh warna) penciptaan alam semesta secara keseluruhan. Ya, jika kita anggap sinar matahari tidak mempunyai warna (berarti warna dari cahaya matahari = 0), dan warna pelangi adalah mejikuhibiniu atau merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu, maka bisa kita buat persamaan matematikanya:

----> warna cahaya matahari = warna pelangi
----> 0 = merah + jingga + kuning + hijau + biru + nila + ungu
----> merah + jingga + kuning + hijau + biru + nila + ungu = 0

Secara skala laboratorium, tentu kita pernah melakukan percobaan mengarahkan lampu senter ke arah prisma kaca. Dari cahaya senter yang asalnya tidak berwarna, setelah melewati prisma kaca tersebut akan membentuk 7 warna pelangi.
Percobaan cahaya melewati prisma kaca. Sumber gambar: wikipedia.org
Mungkin seperti inilah filosofi penciptaan alam semesta. Tentu, Sang Pencipta mempunyai tekhnologi yang super canggih untuk menciptakannya. Maka, dalam sebuah ayat Al Qur'an, kita bisa menemukan teori penciptaan alam semesta.

أَوَلَمْ يَرَ‌ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضَ كَانَتَا رَ‌تْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

  Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

   Dan jika kita letakkan satu prisma kaca secara terbalik di sisi warna pelangi tersebut, maka cahaya yang didapat adalah kembali seperti semula. Percobaan lain yang bisa dilakukan adalah dengan memotong kertas putih tebal sehingga membentuk lingkaran. Kemudian kertas putih itu diwarnai dengan warna ketujuh warna pelangi tersebut. Masing- masing warna menempati 1/7 bagian dari lingkaran (satu warna membentuk 1/7 lingkaran). Kemudian tepat di tengah lingkaran tersebut kita tusuk dengan pensil sehingga pensil tersebur menancap. Selanjutnya pensil dan kertas tersebut kita putar seperti gangsing. Maka bisa kita temukan, warna yang terlihat adalah warna asal dari kertas tersebut, yaitu putih. Dengan kata lain, ketujuh warna itu lenyap.

Lenyapnya Suatu Materi Tidak Mesti Bertemu Dengan Negatifnya

   Dari pengamatan pelangi di atas, maka Joko Bodho berpikir bahwa materi bisa saja hilang tanpa harus bertemu dengan anti materinya. Atau bisa jadi, dan kemungkinan, yang terjadi adalah sangat komplek. Dimana gabungan beberapa materi bertemu dengan gabungan beberapa anti materi akan menjadikan beberapa materi tersebut lenyap. Atau mungkin anti materi dari sesuatu, atau kumpulan sesuatu ternyata berbentuk materi juga? Allahu a'lam bishshawab.

Kesimpulan Joko Bodho

   Jika anda mempunyai ilmu tentang hal ini, maka Joko Bodho dengan senang hati akan belajar dari anda. Komentar anda sangat ditunggu, agar اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi kita pemahaman yang lebih mendekati kebenaran.
   Akhirnya Joko Bodho berkeyakinan bahwa jika alam semesta ini disatukan lagi, maka disana akan bertemu materi dan anti materi, entah bagaimana wujudnya. Yang jelas, Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan (0) mempunyai tekhnologi yang dengan mudah akan melenyapkannya (menjadikannya 0 kembali)...
   Maka, pada hakekatnya kita ini adalah 0. Hanya  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sajalah yang 1.

Jumat, 10 Mei 2013

Memahami Objek Dakwah


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

 MEMAHAMI OBJEK DAKWAH

   Kita semua tahu bahwa Agama Islam mampu bertahan sampai sekarang ini, dan menyebar ke seluruh penjuru dunia, adalah berkat kesuksesan dakwah Nabi Muhammad SAW. Beliau dari seorang diri, mampu mengkader ribuan orang pada masanya untuk tertarik kemudian menjadi pemeluk Islam, dan berikutnya istiqomah dalam menjalankannya. Tentu kesuksesan dakwah beliau SAW tidak begitu saja terjadi, pasti metode dan manajemen dakwah beliau mempunyai andil yang besar, meskipun tentu pertolongan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak bisa dipisahkan.
   Salah satu unsur yang menentukan keberhasilan  dakwah Rasulullah SAW adalah beliau mampu memahami objek dakwahnya. Beliau memahami sifat dan karakter orang yang akan beliau dakwahi. Maka, di luar anggota keluarga, yang pertama beliau dakwahi adalah Abu Bakar r.a. Ini bisa kita maklumi karena Abu Bakar r.a. lah sahabat terdekat beliau. Beliau mengenal betul sosok yang didakwahinya, dan yakin akan mudah menerima apa yang dibawanya.
   Kemudian seperti yang mahsyur diceritakan dalam kisah- kisah siroh nabawiyah, Rasulullah melakukan dakwah sembunyi- sembunyi, dengan menemui kaumnya secara empat mata, ataupun dalam jumlah yang sedikit. Tujuannya adalah menyesuaikan metode ataupun isi dakwah dengan orang yang didakwahi. Seandainya beliau menghadapi banyak orang, tentu saja akan lebih sulit menyesuaikan materi dan metode dakwah beliau, karena masing- masing orang punya karakter dan tingkat pemahaman yang berbeda- beda. Dengan cara ini, beliau berhasil mengajak beberapa orang untuk masuk Islam, dan terbukti kemudian menjadi pemeluk Islam yang sangat kokoh imannya.
   Jika kita gali, maka akan sangat banyak yang kita pelajari dari manajemen dakwah Rasulullah SAW, namun di sini kita hanya sedikit membahas salah satu metodenya, yaitu berdakwah secara bertahap. Ini sangat erat kaitannya dengan metode turunnya Al Qur'an yang berangsur- angsur. Tujuannya adalah seperti yang difirmankan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  dalam Al Qur'an Surat Al Furqan (25): 32

  وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُ‌وا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْ‌آنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَ‌تَّلْنَاهُ تَرْ‌تِيلًا

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). (QS 25: 32)

   Di sini bisa kita pahami bahwa tujuan diturunkannya Al Qur'an secara berangsur- angsur adalah supaya hati orang- orang yang beriman menjadi kuat, dalam artian tidak kaget (karena menerima sesuatu yang luar biasa), dan untuk mempermudah memahami dan menghafalkannya secara benar. Jika Al Qur'an itu diturunkan atau disampaikan seketika, maka akan sulit diterima karena jauh bertentangan dengan kultur pada saat itu. Demikian pula ketika menyampaikan Al Qur'an (berdakwah), Rasulullah pun menyampaikan secara berangsur- angsur, disesuaikan dengan tingkat pemahaman objek dakwah yang beliau hadapi. Dalam suatu hadits, beliau bersabda,

"Tidaklah engkau mengatakan sebuah perkataan kepada suatu kaum yang akal mereka belum memahami perkataan tersebut, melainkan sebagian mereka akan tertimpa fitnah"
(HR Muslim No. 14, Al Muqadimah, Bab An Nahyi 'Anil Hadits Bikulli Ma Sami'a)

 Dari hadits di atas bisa kita pahami pentingnya memahami kondisi objek dakwah. Bila kita menyampaikan sesuatu yang, katakanlah terlalu jauh untuk dipahami oleh objek dakwah, maka yang akan terjadi malah bisa mencelakakan si objek dakwah karena menentang dakwah yang kita sampaikan. Sebagai gambaran adalah ayat- ayat yang mula- mula turun (fase Mekah) membahas masalah ketauhidan, kebangkitan setelah mati, surga dan neraka. Sangat sedikit ayat yang berhubungan dengan masalah sosial, kenegaraan, dan hukum- hukum. Aisyah r.a pernah menyampaikan, bahwa jika saat itu penduduk mekah dilarang untuk berzina, maka mereka pasti akan bersumpah untuk tidak meninggalkan zina selama- lamanya. Namun karena yang didakwahkan terlebih dahulu adalah pembalasan nanti setelah berbangkit, maka mereka sanggup meninggalkannya.
   Contoh lain adalah masalah hukum meminum minuman keras atau khamr. Kita bisa menemukan 4 ayat yang berhubungan dengan hukum meminum khamr ini. Secara tertib turunnya, maka tahap- tahap sampai kepada pengharamannya adalah sebagai berikut:

QS An Nahl (16): 67

وَمِن ثَمَرَ‌اتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرً‌ا وَرِ‌زْقًا حَسَنًا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. (QS 16: 67)

QS Al Baqarah (2): 219






يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ‌ وَالْمَيْسِرِ‌ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ‌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ‌ مِن نَّفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّـهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُ‌ونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS 2: 219)

QS An Nisaa (4): 43

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَ‌بُوا الصَّلَاةَ وَأَنتُمْ سُكَارَ‌ىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِ‌ي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْ‌ضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ‌ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورً‌ا


Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS 4: 43)

QS Al Maidah (5): 90

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ‌ وَالْمَيْسِرُ‌ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِ‌جْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS 5: 90)

   Selanjutnya bisa kita gambarkan dalam diagram berikut, dimana garis hitam adalah batas keislaman manusia, yang terus dipersempit dengan turunnya ayat- ayat Al Qur'an yang berangsur- angsur, untuk menuju syarat pemeluk Islam bisa dikatakan sudah masuk secara kaffah.

Contoh pelaksanaan hukum meminum khamr yang berangsur- angsur.

    Kita perhatikan bahwa ketika turun QS 16: 67, orang mukmin masih diperkenankan meminum khamr, ayat ini hanya menceritakan kondisi saat itu. Kemudian ketika turun QS 2: 219, ini merupakan warning bahwa اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak menyukai orang yang meminum khamr. Bagi yang memahami maksud ayat tersebut, maka mereka segera bergeser dari wilayah bintang berwarna merah ke arah pusat lingkaran. Ada yang langsung paham sehingga ia langsung masuk ke wilayah lingkaran dengan bintang hijau, ada yang sekedar mengurangi aktivitas meminum khamr sehingga dia hanya bergeser ke wilayah bintang oranye. Tapi bagi yang masih tinggal di wilayah bintang merah, mereka akan kesulitan jika nantinya turun larangan yang lebih keras.
   Ketika turun QS 4: 43, maka yang tidak mematuhi bisa terkena dosa besar, ini karena sholat mereka tidak diterima. Namun meminum khamrnya sendiri masih diperbolehkan. Hingga ketika turunnya QS 5: 90, maka yang masih meminumnya tidak bisa dikatakan telah masuk Islam secara kaffah, dan setiap kali meminumnya, maka ia mendapat dosa.
   Jika kita ambil pelajaran, maka untuk menguatkan hati, artinya siap untuk menerima perintah atau larangan selanjutnya yang mungkin lebih berat untuk dilaksanakan atau ditinggalkan, maka diperlukan penyampaian ajaran Islam secara berangsur- angsur. Jika tidak, bisa jadi niat kita menyelamatkan si objek dakwah, tapi yang terjadi malah kita menjerumuskan dia ke neraka.
   Untuk itu bagi para penbaca, mohon tidak sungkan- sungkan menyampaikan komentar, untuk meminimalisir kesalahan penafsiran tentang tulisan- tulisan saya. Ini sangat mungkin terjadi karena pilihan kata yang saya pakai belum tentu pas dengan pemahaman anda sekalian. Jazakulloh khoir.

Allahu a'lam bishshawab.

Minggu, 24 Maret 2013

Manual Book Manusia

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ 

MANUAL BOOK MANUSIA 


وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْ‌ضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِ‌هِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِ‌هِم مُّعْرِ‌ضُونَ

 Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS Al Mukminun (23):71)

 Manual Book
     Kita acap kali membeli barang- barang elektronik untuk keperluan kita. Umumnya perusahaan pembuat perangkat elektronik tersebut menyertakan buku petunjuk penggunaan atau manual book di dalam kemasan produknya. Kalaupun tidak, pasti ada petunjuk singkat untuk menemukan manual book terkait, misalkan konsumen diminta mengunjungi situs internet perusahaan terkait. Yang jelas buku petunjuk itu ada, berbentuk hard copy maupun soft copy. Demikian pula produk- produk lain seperti mobil, mainan, peralatan listrik, dan lainnya juga memerlukan buku petunjuk tersebut.
   Tujuan disediakannya manual book ini sangat jelas, yaitu supaya produk yang mereka pasarkan akan berfungsi dengan baik sesuai tujuannya. Selain itu supaya konsumen bisa dengan mudah mengoperasikannya, awet, dan tidak membahayakan.
    Tentu saja hanya manufacturer yang bersangkutan yang berhak menyusun dan menerbitkan buku tersebut. Jelas karena merekalah pihak yang mengetahui secara pasti detail, cara menggunakan, cara merawat, cara memecahkan masalah jika ada, dan lain- lain. Bahkan jika barangnya berbeda seri saja, maka buku petunjuknya akan beda meskipun pabrik pembuatnya sama. Tidak mungkin manual book untuk produk dengan spesifikasi 'A' diaplikasikan ke produk dengan spesifikasi 'B'. Dan tidak akan sesuai jika kita merubah prinsip- prinsip di dalam manual book mengoperasikan suatu produk yang bersangkutan. Sudah tentu tidak akan bekerja seperti semestinya.
   Bisa kita bayangkan, jika kita punya mobile phone dengan tombol qwerty, tidak mungkin kita memakai manual book untuk mobile phone yang touchscreen. Biar layarnya dipencet sampai gepeng ya nggak bakalan berubah displaynya.

Manual Book Untuk Manusia
   Bagaimana dengan manusia? Suatu produk super canggih yang memerlukan penanganan khusus ini tentu saja mempunyai manual book juga. Jika tidak, tentu akan saling berbenturan kepentingan antara manusia yang satu dengan yang lainnya. Jika demikian, akan rusaklah produk ini, paling tidak fungsinya tidak akan tercapai. Padahal fungsi manusia tidak main- main, sebagai pemimpin di bumi ini. Yang unik adalah kita harus mengaplikasikannya kepada diri kita sendiri, karena kitalah produk itu. Maka, di mana kita bisa menemukan manual book itu, supaya kita bisa berfungsi sesuai desain Penciptanya?
   Jawabannya jelas, Sang Pencipta telah menerbitkan buku petunjuk itu. Dan jika manusia tidak mengerti hal- hal yang dimaksudkan oleh manual book itu, maka Dia telah menugaskan utusan-Nya untuk memberi contoh. Ya, اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menurunkan kitab- kitab suci, sejak dari jaman dulu, dan mengutus Rasul- rasul-Nya untuk menyampaikan, menjelaskan, sekaligus mengaplikasikannya ke dalam diri mereka sendiri. Jadi, manusia- manusia yang lain, selain mendapatkan info lengkap dari kitab- kitab tersebut, juga bisa belajar dari penjelasan- penjelasan dari para Rasul, dan juga mencontoh Sang Rasul sebagai sample product, sebagai suri tauladan.
   Bagi yang mengoperasikan dirinya sendiri dengan merujuk manual book tersebut, insya Allah dia akan berfungsi sebagaimana semestinya, seperti yang diinginkan oleh Penciptanya. Bagi yang merujuk manual book selain 'keluaran' dari Sang Pencipta, tentu saja jangan berharap akan berfungsi dengan baik. Bisa jadi malah akan membahayakan dirinya dan orang lain. Ini justru menjadi kebalikan dari tujuan penciptaan kita.
   Ada lagi manusia yang tidak puas dengan isi manual book tersebut. Dia merasa apa yang ada di dalam kitab- kitab buatan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى itu tidak bisa atau tidak cocok untuk diterapkan. Rupanya dia merasa lebih mengetahui daripada Yang Maha Pencipta tentang dirinya, dan bumi seisinya ini, padahal اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang mencipta, bukan dia. Bahkan dia tidak melihat sama sekali ketika اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menciptakan langit dan bumi, dan dirinya sendiri. Betapa sangat sombongnya orang semacam ini. Dia berani merubah- rubah manual book yang sudah pasti 100% benar, dan pasti cocok jika diterapkan. Sayangnya masih banyak manusia yang sependapat dengan dia, yang akhirnya mengikuti manual book yang sudah tidak asli itu. Akibatnya, sama saja, fungsinya tidak akan tercapai.

Al Qur'an Sebagai Manual Book Edisi Terbaru
   Kitab- kitab yang اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah turunkan berlaku sampai pada masa- masa tertentu. Manual book itu menjadi tidak relevan lagi ketika اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah merubah kondisi ciptaanNya. Sebagai gambaran, jika sebuah perusahaan telah mengeluarkan produk yang lebih maju tehnologinya, sehingga manual booknya perlu disesuaikan dengan produk tersebut. Begitu pula Al Qur'an, kitab ini merevisi kitab- kitab sebelumnya, agar sesuai dengan kondisi semesta. Al Qur'an berfungsi membenarkan dan menyempurnakan kitab- kitab sebelumnya.
   Apa yang dibenarkan oleh Al Qur'an dari kitab- kitab sebelumnya? Para ulama sepakat bahwa yang dibenarkan adalah prinsip- prinsip utama dalam beragama, misalnya ketauhidan. Maka banyak sekali hal- hal yang sama yang terdapat dalam Al Qur'an dan kitab- kitab sebelumnya. Misalnya hanya menyembah kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , mengerjakan sholat, menunaikan zakat, dan lain- lain.
   Sedangkan yang disempurnakan adalah masalah syariat. Misalnya tentang tatacara ibadah, hubungan muamalah, hukum- hukum, dan sebagainya.
   Dan Al Qur'an ini adalah kitab terakhir yang اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى turunkan. Ini sudah sempurna, berlaku untuk seluruh manusia dan tak terbatas waktunya, bahkan nanti di akheratpun masih berlaku. Nggak percaya? Di dalam Al Qur'an terdapat gambaran tentang hari hisab, keadaan para penghuni syurga dan neraka. Jangan berpikir itu hanya penggambaran, itu adalah aturan yang nanti berlaku di akherat. Peraturannya barang siapa yang amal sholehnya di dunia lebih berat dari amal buruknya, maka dia berhak masuk surga yang mempunyai fasilitas- fasilitas seperti yang tercantum dalam Al Qur'an. Sebaliknya bagi yang di dunia amal buruknya lebih berat dari amal sholehnya, maka dia masuk neraka. Peraturan yang sangat jelas, dan pasti akan berlaku nanti di akherat.

Ayat- ayat Muhkamat dan mutasyabihat
   Petunjuk- petunjuk dalam Al Qur'an yang dirinci melalui ayat- ayat, terbagi menjadi ayat muhkamat dan ayat muhtasyabihat. Sebagian ulama mengartikan ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang sudah jelas maksudnya. Sedangkan ayat muhtasyabihat adalah ayat- ayat yang untuk memahaminya diperlukan pengkajian khusus, atau ayat yang belum berlaku sampai nanti suatu saat keadaan memungkinkannya untuk berlaku, dan ada pula yang menyerahkan artinya kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى saja.
   Sebagian ulama yang lain memaknainya lebih rinci, yaitu ayat muhkamat adalah ayat- ayat yang berhubungan dengan prinsip beragama. Ini seperti yang tertulis di atas, menyangkut masalah- masalah tauhid, mengikuti jalan yang lurus dan meninggalkan langkah- langkah syaitan, tujuan penciptaan manusia, dan lain- lain. Inipun sesuai dengan pendapat ulama yang saya urai di alenia sebelumnya. Ayat- ayat ini karena berisi hal- hal prinsipil, maka tidak bisa ditawar- tawar lagi, harus dilaksanakan dan segera. Bagi yang melanggar ayat- ayat ini bisa dikatakan Islamnya tidak benar, atau bahkan mungkin gugur.
   Sedangkan ayat muhtasyabihat, adalah ayat- ayat yang berhubungan dengan tekhnis pelaksanaan agama. Bisa jadi memang perintah- perintah dalam ayat itu belum bisa dilaksanakan dengan sempurna. Atau bisa pula melakukan amal yang sama dengan cara- cara yang berbeda. Yang penting pengaplikasian ayat- ayat ini tidak bertentangan dengan prinsip- prinsip yang telah diatur dalam ayat muhkamat.
   Contoh pelaksanaan ayat muhtasyabihat ini misalkan, bahwa hukum rajam bagi pezina adalah wajib. Namun ada kisah ketika seorang wanita melapor bahwa anak yang ada dalam kandungannya adalah hasil berzina, maka Rasulullah SAW memutuskan menunda pelaksanaan hukuman bagi wanita tersebut. Hukuman itu ditunda sampai wanita tersebut melahirkan. Kemudian dia melapor lagi, namun oleh Rasulullah SAW ditunda lagi sampai dia menuntaskan masa menyusui bayinya. Baru setelah bayi itu sampai pada masa disapih, beliau SAW melaksanakan hukuman.
   Di sini bisa diambil contoh, bahwa hukumannya wajib (prinsipil), tapi tekhnisnya, yaitu waktu pelaksanaannya bisa ditolerir. Berbeda dengan beribadah kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى harus murni, dan terus menerus dalam kemurniannya. Tidak ada toleransi sama sekali dalam hal ini, karena ini adalah hal yang prinsipil, baik sifat maupun waktu pelaksanaannya.        

Penutup
   Maka mari kita berdo'a kepada  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, agar selalu dalam petunjukNya dalam mengoperasikan diri kita agar tidak keliru mengambil aturan- aturan dari manual book yang lain, atau yang sudah tidak orisinil lagi. Al Qur'an inilah petunjuk dari   اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kepada jalan yang lurus. Kita tidak perlu ragu, tidak perlu lagi merevisi, apalagi mencari penggantinya.

Allahu a'lam bishshawab.

Sabtu, 23 Maret 2013

Toleransi Beragama di Zaman Rasulullah

 بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

 TOLERANSI BERAGAMA DI ZAMAN RASULULLAH

   Zaman sekarang ini, baik di Indonesia maupun dimanapun di seluruh dunia, Agama Islam dicap sebagai agama yang intoleran terhadap penganut agama lain. Entah ini karena memang kebencian (atau kedengkian) penganut agama lain terhadap Islam, atau karena Islamofobia, atau mungkin karena perilaku pemeluk Agama Islam sendiri yang memang bersikap intoleran kepada pemeluk agama lain, terutama ketika pemeluk Agama Islam menjadi masyarakat mayoritas. Kadang- kadang dengan dalih amar ma'ruf nahyi munkar, mereka melakukan tindakan yang bisa disebut arogan. Tapi benarkah Rasulullah melakukan hal- hal seperti itu. Dalam kisah siroh nabawiyah bisa kita temukan bagaimana sikap Rasulullah menghadapi pemeluk agama lain, maupun pemeluk Agama Islam yang tidak taat, saat periode Mekah dan periode Madinah.
   Hubungan dengan pemeluk agama lain terjadi baik pada waktu Rasulullah SAW masih berada di Mekah, maupun setelah beliau hijrah ke Madinah. Pada saat di Mekah, beliau sehari- harinya berbaur dengan masyarakat pagan, penyembah berhala. Bermacam- macam tipe manusia yang beliau hadapi, yaitu orang yang tidak menentang dakwah beliau, meskipun tidak bersedia masuk Islam, maupun orang- orang yang menentang dakwah beliau.
   Dalam upaya kaum musyrik menghalangi dakwah beliau, mereka menggunakan cara kasar maupun halus. Cara kasar yang mereka tempuh diantaranya dengan secara langsung menyiksa pengikut beliau SAW, dan melakukan intimidasi baik kepada Rasulullah SAW maupun pengikut beliau, bahkan percobaan pembunuhan terhadap diri Rsulullah sendiri. Cara halus diantaranya dengan boikot sosial dan ekonomi, menyebar tuduhan- tuduhan untuk merusak citra Rasulullah, dan upaya diplomasi kepada Rasulullah SAW.
   Kondisi umat Islam pada saat itu adalah kaum minoritas yang lemah. Namun kondisi itu terbantu dengan adanya perlindungan dari Abu Thalib, paman Rasulullah SAW, yang merupakan tokoh yang terpandang di kalangan Suku Quraisy. Sedangkan penguasa saat itu adalah orang- orang musyrik. Bagaimana Rasulullah menyikapi orang- orang musyrik itu, terutama dalam kaitan dengan toleransi beragama?
   Suatu ketika para pemuka kaum Quraisy berusaha menghentikan dakwah Nabi SAW dengan cara halus, yaitu diplomasi. Dikisahkan mereka mengutus diplomat mereka, Uthbah bin Rabiah untuk membujuk Nabi SAW. Langkah pertama dengan menawarkan 3-ta (harta, tahta, wanita) kepada Rasulullah SAW gagal. Usaha kedua, dengan menawarkan konsep toleransi beragama, yaitu dengan cara saling bergantian melaksanakan ibadah agama mereka. Artinya kaum musyrik pada waktu tertentu mengikuti Islam, namun di waktu lain umat Islam juga melaksanakan ibadah cara kaum musyrik. Menanggapi ajakan ini, turunlah Surat Al Kafirun ayat 1-6.


قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُ‌ونَ ﴿١﴾ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ﴿٥

 لَكُمْ  دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ﴿٦

Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, (1) Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. (2) Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. (3) Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, (4) dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. (5) Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku". (6)

Inilah sikap Rasulullah SAW terhadap ajakan kaum musyrik. Mereka menawarkan konsep yang salah dalam bertoleransi antar agama. Dalam Surat Al Kafirun jelas sekali bahwa toleransi itu bukan ikut melaksanakan ibadah pemeluk agama lain.
   Dua kali mengalami kegagalan, Uthbah bin Rabiah tidak menyerah. Dia sekali lagi menemui Rasulullah SAW untuk menawarkan konsep toleransi beragama yang lain. Dia meminta agar Rasullah SAW untuk sekedar duduk- duduk bersama mereka, dan dia berjanji akan menikuti dakwah Nabi SAW. Untuk ini, اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menurunkan Surat Al Israa' (17) ayat 73-75

 وَإِن كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِ‌يَ عَلَيْنَا غَيْرَ‌هُ ۖ وَإِذًا لَّاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا ﴿٧٣﴾ وَلَوْلَا أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْ‌كَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا ﴿٧٤﴾ إِذًا لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرً‌ا ﴿٧٥ 


Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. (73) Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, (74) kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (75)

Ayat- ayat inipun menolak konsep toleransi beragama yang ditawarkan orang- orang musyrik itu. Padahal sepintas tidak ada kerugian yang akan diderita Rasulullah SAW waktu itu, (dan umat Islam saat ini pun sepertinya tidak akan rugi jika mengikuti ajakan mereka). Namun اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى membuka rahasia potensi buruk jika mengikuti kemauan pemeluk agama lain tersebut dalam ayat 73 tadi. Jika sudah menjadi sahabat, maka sulit untuk menolak ajakan- ajakan selanjutnya yang mungkin semakin menjerumuskan keyakinan umat Islam.
   Lalu, timbul pertanyaan, hal- hal di atas kan terjadi saat umat Islam tidak berdaya, tidak mampu memaksa pemeluk agama lain untuk memeluk Islam, bagaimana saat umat Islam sudah kuat, samakah konsepnya, atau akan menjadi orang- orang yang mengajak umat agama lain mengikuti ibadah umat Islam? Di Madinah, dimana umat Islam pada waktu itu sudah kuat, sudah menjadi mayoritas, bahkan Rasulullah SAW sudah menjadi pemimpin masyarakat Madinah, kita bisa menemukan jawabannya.
   Madinah yang masyarakatnya terdiri dari bermacam- macam suku bangsa dan pemeluk agama yang berbeda, merupakan contoh suatu negara heterogen. Pada waktu itu Madinah dihuni oleh pemeluk Agama Islam, Yahudi, sebagian kecil Nasrani, dan juga para penyembah berhala. Bagaimana hubungan Umat Islam waktu itu dengan pemeluk agama lain, terutama Yahudi yang jumlah penduduknya cukup besar? Di dalam naskah Piagam Madinah (Madinah Charter/ Sahifah Madinah) yang dirancang oleh Rasulullah Muhammad SAW, kita menemukan konsep toleransi antar umat beragama versi Islam. Pada pasal 25 kita temukan bahwa: "bagi Kaum Yahudi agama mereka, dan bagi Kaum Muslim agama mereka. Kebebasan ini juga berlaku bagi sekutu- sekutu mereka masing- masing, kecuali bagi orang yang berbuat zalim dan jahat, hukumannya hanya akan menimpa diri dan keluarganya." (Naskah Piagam Madinah yang asli tidak terbagi dalam pasal- pasal. Pembagian pasal dilakukan oleh A.J. Winsick dalam karyanya 'Mohammed en de joden te Madina'. -Ensiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW "The Super Leader Super Manager" volume 5, Kepemimpinan Sosial Politik halaman 95- karya Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec).
   Jelas sekali di sini tidak ada pemaksaan dari pihak Kaum Muslim yang waktu itu sedang berkuasa terhadap pemeluk agama lain untuk mengikuti Agama Islam. Begitupun Umat Islam dilarang mengikuti ibadah mereka. Pada waktu Kaum Yahudi melanggar salah satu pasal dari Piagam Madinah dan karenanya mereka diperangi dan dikalahkan, tetap tidak ada pemaksaan agar mereka masuk Islam. Bahkan pada saat penaklukan Khaibar, kitab- kitab suci mereka diserahkan kembali kepada mereka dalam keadaan utuh.
   Sealain itu ayat- ayat Al Qur'an yang turun pada fase Madinah (ayat Madaniyah) juga mendasari konsep kebebasan dan toleransi beragama versi Islam ini. Diantaranya bisa kita temukan di Surat Al Baqarah (2) ayat 256:

لَا إِكْرَ‌اهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّ‌شْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ‌ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّـهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْ‌وَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّـهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿٢٥٦

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (256)

Sangat jelas dan tegas, tidak ada paksaan dalam beragama. Karena yang benar sudah sangat jelas, maka bagi yang tidak mengikuti kebenaran berarti memang tidak mau. Jika dipaksa, maka imannya tidak akan benar. Yang terjadi malah mereka akan menjadi orang munafik (Islam KTP). Dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa golongan munafik adalah penghuni neraka paling dasar, jadi masih mending orang yang jelas- jelas kafir. Pun dalam catatan sejarah, orang munafiklah yang lebih berbahaya bagi umat Islam daripada pihak lain yang jelas- jelas menyatakan permusuhan.

Kita lihat juga Surat Al Kahfi (18) ayat 29:
  
 وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّ‌بِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ‌ ......  ﴿٢٩﴾

Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"....(29)

Dan umat Muslimpun dilarang untuk menjelek- jelekkan keyakinan mereka. Ini adalah adab yang sangat terpuji dalam bertoleransi. Silahkan simak Al Qur'an  Surat Al An'am (6) ayat 108.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ فَيَسُبُّوا اللَّـهَ عَدْوًا بِغَيْرِ‌ عِلْمٍ ۗ .... ﴿١٠٨

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.... (108)

   Dari uraian di atas, jelas sekali bahwa sesungguhnya Islam sangat menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama. Dalilnya jelas tercantum dalam undang- undangnya orang Islam yaitu Al Qur'an, bukan semata- mata karena kebijakan penganutnya. Dan prakteknyapun sudah dilakukan dengan sempurna pada masa generasi Islam yang mula- mula.
   Lalu bagaimana sikap Rasulullah SAW terhadap orang yang mengaku Islam tapi tidak melaksanakan Islam dengan baik (kaum munafik/ Islam KTP)? Apakah beliau memaksa untuk melaksanakan syariat Islam?
   Tersebutlah kisah Ka'ab bin Malik r.a pada waktu perang Tabuk. Beliau sebelumnya belum pernah absen dalam setiap panggilan perang yang melibatkan kaum Muslimin. Namun saat itu beliau enggan ikut dikarenakan suatu alasan yang tidak patut untuk dituruti. Sepulang Rasulullah SAW dari peperangan, orang- orang munafik menghadap beliau menyampaikan uzur masing- masing, dan Rasulullah SAW menerima begitu saja uzur mereka tanpa memberi sanksi sama sekali. Pada saat Ka'ab bin Malik r.a menghadap, beliau tidak menyampaikan uzur, hanya meminta maaf. Maka Rasulullah SAW memberi hukuman kepada Ka'ab bin Malik berupa boikot kepada Ka'ab. Artinya seluruh kaum Mukmin, termasuk keluarganya, dilarang berhubungan dengan Ka'ab, bahkan sekedar bertegur sapa atau mengucap salam. Hal ini berlaku sampai 40 hari, bahkan menurut suatu riwayat ditambah 10 hari lagi sampai turun Surat At Taubah (9) ayat 118.
   Jelas sekali perlakuan Rasulullah SAW terhadap orang yang benar- benar keislamannya, dalam contoh di atas Ka'ab bin Malik r.a, dengan orang- orang yang sekedar mengaku Islam (Islam KTP). Jadi tidak benar jika untuk mengingatkan orang yang mengaku beragama Islam yang sedang berbuat salah dengan cara pemaksaan. Lebih bijaksana jika kita tegur sesuai kualitas keislamannya.
   Tapi Rasulullah tidak tinggal diam begitu saja ketika ada pihak yang berlaku intoleran dalam beragama. Hal ini berdasar Al Qur'an Surat Al Baqarah (2) ayat 217:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ‌ الْحَرَ‌امِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ‌ ۖ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللَّـهِ وَكُفْرٌ‌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَ‌امِ وَإِخْرَ‌اجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ‌ عِندَ اللَّـهِ ۚ 

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ‌ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُ‌دُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَن يَرْ‌تَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ‌ فَأُولَـٰئِكَ 

حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَ‌ةِ ۖ وَأُولَـٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ‌ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٢١٧

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: "Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. (217)

Ini artinya kita diperbolehkan memerangi orang- orang yang menghalangi manusia dari jalan  Allah (ibadah, dakwah, dll). Halal untuk memerangi orang yang terlebih dahulu melanggar toleransi antar agama. Tapi di sini batasan memerangi sangat jelas, yaitu jika umat Islam diganggu dalam hal agama, seperti tercantum dalam Al Qur'an surat Al Mumtahanah (60) ayat 8:

لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّـهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِ‌جُوكُم مِّن دِيَارِ‌كُمْ أَن تَبَرُّ‌وهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ﴿٨

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (8)

Izin berperangpun turun ketika umat Islam diganggu dalam hal keyakinan mereka. Bisa kita lihat di dalam Al Qur'an surat Al Hajj (22) ayat 39-40:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ نَصْرِ‌هِمْ لَقَدِيرٌ‌ ﴿٣٩﴾ الَّذِينَ أُخْرِ‌جُوا مِن دِيَارِ‌هِم بِغَيْرِ‌ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَ‌بُّنَا اللَّـهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ 

اللَّـه النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ يُذْكَرُ‌ فِيهَا اسْمُ اللَّـهِ كَثِيرً‌ا ۗ وَلَيَنصُرَ‌نَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُ‌هُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ 

عَزِيزٌ ﴿٤٠
 

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu, (39) (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (40) 

   Dalam kasus peperangan yang lain, peperangan terjadi karena pelanggaran salah satu pihak terhadap kesepakatan yang melibatkan pihak- pihak tersebut, yang biasanya dalam perjanjian itu tertulis bagi yang melanggar perjanjian berhak untuk diperangi.
   Maka, salah besar jika ada yang beranggapan bahwa Islam itu anti toleran. Islam mengajarkan kepada umatnya agar toleran terhadap penganut agama lain dengan batas- batas yang sangat jelas. Tidak ada paksaan dalam beragama, bahkan ketika umat Islam berkuasa penuh.

Allahu a'lam bishshawab.