Kamis, 07 Maret 2013

Bershalawat Ingin Masuk Syurga

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

BERSHALAWAT INGIN MASUK SYURGA

Tradisi Baru
   Pada waktu saya cuti Bulan Desember lalu, saat menjelang sholat Jum'at di masjid dekat rumah mertua saya, ada sesuatu yang baru yang belum saya temui sebelumnya. Salah seorang dari jamaah yang hadir mengkomando seluruh jamaah untuk mengumandangkan sholawat (saya lupa nama shalawatnya) sebanyak 80 kali supaya dosa- dosa kita selama 80 tahun diampuni oleh   اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Kemudian secara berjamaah para jammah sholat Jum'at membaca bersama- sama. Shalawatnya berbunyi seperti ini: Allahumma shalli 'ala Muhammad abdika wa rasulikan nabiyyin ummiyyin.

Cara Mudah Masuk Syurga
   Jika seandainya shalawat kita diijabah oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى maka kita bisa membuat perhitungan seperti ini: dosa kita sudah diampuni selama 80 tahun. Kita hitung umur kita: orang zaman sekarang rata- rata meninggal dunia antara usia 70- 80 tahun. Kalau kita hitung dari aqil baligh, kira- kira umur 9 tahun, maka kemungkinan dosa kita yang tercatat adalah sepanjang 61- 71 tahun. Berarti masih ada surplus 9- 19 tahun dosa kita diampuni oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Jadi untuk menjadikan timbangan amal kebaikan kita lebih berat dari amal kejahatan kita, cukup dengan bersedekah 500 rupiah, dan kita sudah bisa masuk syurga. Kan timbangan amal keburukannya sudah kosong. Ya, kan? Ternyata murah sekali ya tiket ke syurga itu, hanya dengan Rp 500,- dan bershalawat 80 kali yang memakan waktu kurang dari 15 menit, kita sudah bisa menikmati bidadari- bidadari, minuman anggur, susu, buah- buahan, tak ada terik matahari, dan segala kenikmatan super lainnya, lebih murah dari harga plembungan (balon). Tak perlu repot- repot menahan diri dari hawa nafsu, toh dosa kita sudah diampuni, malah nyisa lagi jatah pengampunannya. Sebegitu mudahkah cara masuk syurga? Nanti dulu...

Arti Shalawat
   Shalawat adalah bentuk jamak dari kata shalla, yang bisa berarti do'a, ibadah, keberkahan, kesejahteraan atau kemuliaan. Shalawat umat mukmin kepada Rasulullah SAW berarti do'a agar اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Rasulullah SAW. Dari sudut pandang lain bisa dikatakan bahwa bershalawat kepada Rasulullah SAW adalah ekspresi kecintaan umatnya kepada beliau.
   Memang banyak hadits yang menyebutkan bahwa dengan bershalawat kepada Rasulullah SAW, maka kita akan mendapat balasan kebaikan yang berlipat ganda, seperti itu intinya. Yang jadi masalah adalah, adakah kita dalam bershalawat benar- benar mendo'akan Rasulullah SAW agar mendapat rahmat dan kesejahteraan dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ? Bukankah banyak dari kita yang bershalawat karena ingin masuk syurga? Kalau tidak diiming- imingi pengampunan dosa atau mendapat pahala, akankah kita mengekspresikan kecintaan kita kepada Rasulullah SAW? Dan, sudahkah kita benar- benar mencintai beliau?

Menshalawati Diri Sendiri, Bukan Nabi
   Kalau kita bershalawat karena mengharap pahala, atau diampuni dosa kita, kemudian karena itu kita masuk syurga, tanpa benar- benar dalam hati dan kesadaran kita mendo'akan Nabi SAW, bukankah itu sama dengan 'memanfaatkan'  Nabi untuk bisa masuk syurga? Sedangkan ekspresi cinta kita kepada Nabi SAW melalui shalawat, belum tentu menjadi bukti kecintaan kita terhadap beliau.
  Shahabat Anas bin Malik r.a pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, kira- kira seperti ini " ya Rasulullah, aku sangat mencintai anda, aku senang karena bisa berkumpul dengan engkau. Tapi apakah di akherat nanti aku bisa berkumpul dengan engkau seperti sekarang ini?" Kemudian Rasulullah SAW menjawab,"di akherat orang akan berkumpul dengan yang dicintainya." Mendengar jawaban itu, Anas bin Malik r.a pun sampai menangis karena bahagia.
   Rasa cinta bisa diungkapkan dengan kata- kata, tapi yang lebih penting adalah bukti melalui amal kita. Seorang laki- laki bisa dengan mudah menyatakan cinta kepada seorang wanita. Tapi ketika laki- laki tersebut tidak mau menuruti keinginan sang wanita, maka pastilah wanita itu menganggap cintanya tidak sungguh- sungguh. Demikian pula cinta kita kepada Nabi SAW, jika kita tidak mau mengikuti sunah beliau yang beliau wajibkan untuk kita ikuti, tentu kita dipandang tidak sungguh- sungguh dalam mencintai beliau, bahkan bisa jadi tidak cinta sama sekali.
   Shalawat kita kepada Nabi SAW akan membantu kita secara otomatis ketika kita lantunkan dengan kesadaran bahwa Nabi SAW memang layak kita cintai karena jasa beliau, karena keagungan beliau. Dengan rasa cinta kita yang kita ekspresikan dengan shalawat nabi, dan kita refleksikan dalam bentuk mengikuti sunah beliau, maka balasan berlipat ganda itu akan kita terima dengan sendirinya.
   Jadi ketika shalawat hanya kita jadikan 'passwords' untuk bisa masuk surga, maka tujuan shalawat yang kita lantunkan tidak tercapai. Kita selalu mengupamakan Rasulullah SAW sebagai bejana kebaikan yang sudah penuh, jika kita mendo'akan beliau, maka kebaikan itu akan tumpah dan kembali kepada kita sendiri. Kalau begitu, untuk siapa kita bershalawat, untuk Nabi SAW atau untuk diri kita sendiri? Jangan sampai shalawat yang kita lantunkan hanya sekedar menjadi 'rayuan gombal' sedangkan bukti kecintaan kita kepada Nabi SAW tidak kita refleksikan dengan benar.

Allahu a'lam bishshawab.

Senin, 04 Maret 2013

Sudah Menolong Allah, Atau Baru Menolong Diri Sendiri?

  بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

SUDAH MENOLONG ALLAH, ATAU BARU MENOLONG DIRI SENDIRI?

   Sering kita melakukan ibadah seperti apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Kita berusaha melakukannya dengan sebaik- baiknya, tentu saja. Kita berharap اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meridhoi kita sesuai tujuan ibadah kita. Dan insya Allah pahala akan mengalir kepada kita.
   Tapi apakah pernah kita merenungkan, apakah manfaat ibadah kita dirasakan juga oleh orang lain, atau hanya kita sendiri yang merasakannya. Sudah pasti jika kita melaksanakan sholat, kita akan merasa tenteram. Jika kita melaksanakan wiridan, maka beban hidup serasa lepas. Dan sebagainya. Namun seperti yang sudah kita ketahui, Islam tidak hanya mengajarkan untuk beribadah untuk kepentingan diri sendiri. Orang lain pun mempunyai hak untuk merasakan hasil ibadah kita. Contoh sederhananya adalah اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىmenganjurkan kita untuk bershadaqah. Tentu orang yang menerima shadaqah kita akan ikut merasakan hasil ibadah kita, salah satunya dengan merasakan kebahagiaan. Semakin banyak orang yang kita beri shadaqah, maka luasan ibadah kita pun bertambah.
   Ada beberapa tingkatan dalam beribadah, jika kita kategorikan secara luasnya pengaruh ibadah kita terhadap orang lain, bahkan bisa juga terhadap yang bukan manusia. Tidak perlu perpikir rumit, karena penggolongan ini sama saja dengan posisi kita sebagai makhluk sosial.
  1. Ibadah untuk diri sendiri.
  2. Ibadah untuk keluarga.
  3. Ibadah untuk masyarakat (dari tingkat tetangga sampai seluruh dunia).
  4. Ibadah untuk alam semesta.
  5. Ibadah untuk اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .
   Ibadah untuk diri sendiri sudah jelas, segala amal ibadah kita pasti akan kembali ke kita juga.

QS  45: 15
  مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۖ ثُمَّ إِلَىٰ رَ‌بِّكُمْ تُرْ‌جَعُونَ

Barang siapa yang mengerjakan amal yang shaleh maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Rabbmulah kamu dikembalikan.
Lihat juga QS 41: 46.

   Setelah kita menyelamatkan diri kita, maka  menyuruh kita untuk menyelamatkan keluarga kita, artinya dengan menyelamatkan keluarga kita dari api nerakapun merupakan ibadah yang wajib kita lakukan.
 QS 66: 6


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارً‌ا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَ‌ةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّـهَ مَا أَمَرَ‌هُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا 

يُؤْمَرُ‌ونَ






Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

   Islam adalah agama sosial, banyak sekali perintah- perintah untuk memperhatikan sesama manusia, khususnya terhadap sesama muslim. Hal ini tercermin dalam kewajiban- kewajiban kita untuk bershadaqah, menyantuni fakir miskin dan anak yatim, memberi perlindungan kepada orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslim, dan terutama saling menolong sesama muslim. Bahkan oleh  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى kita divonis celaka jika kita menelantarkan anak yatim dan orang miskin, meskipun kita sholat dengan baik.
QS 107: 1-7

أَرَ‌أَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ ﴿١

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ﴿٢

وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ ﴿٣

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤

الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥

الَّذِينَ هُمْ يُرَ‌اءُونَ ﴿٦

وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ ﴿٧

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria. dan enggan (menolong dengan) barang berguna.   

Dalam surat Al Ma'uun di atas sudah mulai jelas bahwa ibadah untuk diri sendiri ternyata tidak ada manfaatnya jika tidak dibarengi dengan ibadah untuk kepentingan sesama. Bahkan divonis celaka, ada juga yang nengartikan 'wayl' dengan  Neraka Wayl. Naudzubillah, sudah sholat tapi tetap masuk neraka?

   Tingkatan selanjutnya adalah beribadah untuk kepentingan alam semesta, mencakup seluruh benda hidup dan benda mati. Ini sesauai dengan fungsi diutusnya Rasul sebagai rahmat bagi semesta alam.
QS 21: 107 

وَمَا أَرْ‌سَلْنَاكَ إِلَّا رَ‌حْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Rasulullah diutus oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebagai rahmat bagi semesta alam, begitupun para pengikutnya yang mengamalkan sunahnya akan menjadi rahmat bagi semesta alam juga. Dan ternyata memang alam inipun turut beribadah kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .
QS 22: 18

أَلَمْ تَرَ‌ أَنَّ اللَّـهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْ‌ضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ‌ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ‌ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ‌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ‌

حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّـهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِ‌مٍ ۚ إِنَّ اللَّـهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
 



Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan adzab atasnya. Dan barang siapa yang dihinakan Allah maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.

  Yang terakhir adalah beribadah untuk اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maksudnya? Ternyata kita oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى diwajibkan untuk menolongNya, dalam kosakata lain menolong agamaNya. Lho, memang اللَّـهُ سُبْحَانَهُ  وَتَعَالَى butuh kita untuk menegakkan agamaNya? Kenapa nggak اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang turun tangan? Bukannya Dia Maha Perkasa? Ya, sangat mudah bagi اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى untuk melaksanakan segala keinginanNya. Tapi itulah sunatullah. Dia berkehendak untuk menguji kadar keimanan hamba- hamba yang mengaku beriman kepadaNya.
QS 29: 2

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَ‌كُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan lihat pula QS 2: 214.

اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  menjamin, jika kita tidak berusaha menolong agamaNya, maka bisa dipastikan pengikut- pengikutnya akan musnah oleh musuh- musuh Allah. Mungkin ada yang berpikiran bahwa cukup dengan sholat, dzikir, shalawatan, maka اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan menolong kita. Bagaimana kita melindungi sesama muslim jika kita tidak punya kemampuan untuk melindungi? Bagaimana kita membendung pemurtadan yang sangat marak menyerang orang- orang terdekat kita kalau kita hanya sholat, dzikir dan shalawatan. Musuh- musuh Allah telah bergerak sedemikian hebatnya dengan didukung kekuatan ekonomi, politik, sistem, dan mungkin di luar negeri sampai dengan kekuatan senjata. Apakah kita masih merasa cukup hanya dengan sholat, dzikir dan shalawatan, sedangkan masalah kemaslahatan sesama muslim kita serahkan sepenuhnya kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ?
   Maka ada baiknya jika kita kaji QS 22: 40

الَّذِينَ أُخْرِ‌جُوا مِن دِيَارِ‌هِم بِغَيْرِ‌ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَ‌بُّنَا اللَّـهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّـهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّهُدِّمَتْ صَوَامِعُ وَبِيَعٌ وَصَلَوَاتٌ وَمَسَاجِدُ

يُذْكَرُ‌ فِيهَا اسْمُ اللَّـهِ كَثِيرً‌ا ۗ وَلَيَنصُرَ‌نَّ اللَّـهُ مَن يَنصُرُ‌هُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allah". Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Allah akan menolong orang yang menolong (agama)Nya. Maka logikanya sangat mudah, jika kita ingin ditolong oleh Allah, maka kita harus menolong (agama)Nya. Kalau tidak, seperti isi ayat di atas, maka akan hancurlah rumah- rumah ibadah, meskipun penghuninya rajin menyebut nama Allah (beribadah secara verbal/ ritual saja). Maka jika rumah- rumah ibadah sebagai simbol eksistensi penganutnya sudah hancur, tinggal menunggu hancurnya para penganut agama tersebut.

Allahu a'lam bishshawab.

Rabu, 14 November 2012

Solusi Dan Larangan

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

SOLUSI DAN LARANGAN

   Umat Islam adalah umat yang paling mulia di dunia ini. Salah satu sebabnya adalah karena Umat Islam selalu menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (QS Ali Imran 3: 110). Artinya setiap mukmin wajib melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar ini, jika ingin mendapat predikat bagian dari Umat Islam. Caranya bisa bermacam- macam, sampai yang paling tipis adalah mengingkari sebuah kemungkaran hanya di dalam hatinya saja, tanpa tindakan nyata.
   Banyak pula yang sangat bersemangat dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar ini. Ada yang melakukan secara halus, ada pula yang sudah menggunakan kekuatan, biasanya mereka melakukannya secara berkelompok. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal, bahkan ada juga yang justru merendahkan citra Umat Islam sedangkan misi yang mereka tuju gagal total.
   Dalam Al Qur'an, seringkali اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memerintahkan kita untuk meninggalkan suatu perbuatan buruk, dan menyuruh kita menggantinya dengan perbuatan yang baik. Contohnya saya ambil masalah riba. Dalam QS Al Baqarah 2: 275, Allah SWT mengatakan bahwa riba adalah haram, dan jual beli adalah halal. Artinya, untuk mendapatkan keuntungan, kita dilarang melakukan riba, sebagai alternatif atau solusinya اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى meridhoi kita untuk melakukan jual beli. Dalam ayat selanjutnya, yaitu QS Al Baqarah 2: 276, Allah SWT menyatakan bahwa Dia memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Artinya daripada mengambil keuntungan duniawi dengan cara memungut riba, lebih baik meniatkan meminjamkan uang untuk membantu sesama, dan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى akan memberinya keuntungan di akherat secara berlipat ganda. Ini adalah solusi yang lebih baik, baik bagi si peminjam uang karena tidak terbebani bunga hutang, baik bagi si pemberi hutang karena mendapat pahala, dan baik pula bagi masyarakat.
   Kita bisa mengambil pelajaran dari contoh kedua ayat di atas. Sebuah larangan seyogyanya diikuti dengan solusi. Bisa jadi seseorang melakukan perbuatan munkar karena dia tidak tahu alternatif lain yang benar. Atau tidak sanggup melakukan hal lain karena kelemahannya. Contohnya rentenir yang karena tidak mau susah- susah bekerja, maka cukup dengan memperjual belikan uang. Contoh lain seorang penjual minuman memabukkan, karena dari menjual minuman memabukkan itu dia mendapat untung yang besar dan pelanggan setia, maka bahagialah dia dengan menjual minuman memabukkan itu.
   Jika kita ingin melakukan amar ma'ruf nahi munkar, maka sebaiknya kita mempunyai solusi juga agar orang yang menjadi objek kita bisa benar- benar berubah. Misalnya jika kita meminta si penjual minuman memabukkan untuk berhenti menjual dagangannya, pasti dia menjawab "memang anda mau menanggung biaya hidup keluarga saya?" Jawaban yang sama akan keluar dari pelaku kemunkaran yang disebabkan desakan ekonomi. Misalnya PSK, calo tiket, rentenir, dll. Maka sebelum kita melarang, mestinya kita sudah menyiapkan alternatif sebagai pengganti lahan mata pencaharian mereka.
   Memang tidak mudah. Tapi itulah tantangan berjuang di jalan Allah. Terkadang ada orang yang kuat baik secara wibawa atau pengaruh, ekonomi, dan intelektualitasnya. Orang seperti ini mungkin akan bisa melakukan amar ma'ruf nahi munkar dengan baik. Tapi, seandainya kita tidak termasuk orang seperti itu, maka team work mutlak diperlukan. Insya Allah tentang team work ini akan kita bahas di edisi berikutnya berjudul "Mentadaburi Rumah Kita".
   Yang menarik dari kata- kata amar ma'ruf nahi munkar, yang dalilnya bisa kita temukan di QS Ali Imran ayat 104, 110, dan 114, maka jika kita pandang kata- kata amar ma'ruf nahi munkar itu sebagai satu kesatuan, atau kata nahi munkar adalah kelanjutan dari amar ma'ruf, maka kita memang bisa menyimpulkan bahwa hal yang kita inginkan untuk dikerjakan orang lain berhubungan erat dengan hal yang orang itu kita cegah untuk melakukannya. Dengan kata lain memang perlu adanya solusi sebelum kita mencegah hal- hal yang mungkar.
   Dan satu lagi syarat yang harus terpenuhi dalam beramar ma'ruf nahi munkar adalah orang yang kita jadikan objek haruslah orang mu'min pula. Ini berdasar definisi amar ma'ruf nahi munkar oleh Anshary Ismail dalam bukunya Jalan Islam halaman 282. Berarti sebelum melakukan, kita harus yakin dulu bahwa orang yang kita jadikan sasaran adalah orang Islam juga, yang sepakat, atau nantinya tahu bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan munkar. Bayangkan jika kita menyuruh orang untuk tidak berjualan 'sate jamu' atau 'sengsu' ternyata orang itu beragama lain, ya tidak akan berarti. Di sini yang berlaku adalah lakum diinukum waliyadiin, bukan amar ma'ruf nahi munkar.
   Maka dari sini kita tahu mengapa sweeping tempat- tempat mesum tidak pernah mendapatkan hasil nyata, ya karena yang kita jadikan objek amar ma'ruf nahi munkar bukan orang mu'min, dan kita tidak menawarkan solusinya. Mestinya KTPnya saja yang kita sweeping.....*_*

Allahu a'lam bishshawab.

Dukhan, Qatar.
1 Muharam 1434 H

Jumat, 09 November 2012

Kenapa Kita Tidak Vegetarian?

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

KENAPA KITA TIDAK VEGETARIAN?

   Topik ini sebenarnya sudah saya siapkan sejak lama. Waktu itu saya sempat sharing ke beberapa teman dengan judul 'Menjawab Pertanyaan Sang Vegetarian'. Di situ saya menulis bahwa saya sudah mempersiapkan jawaban kalau- kalau suatu saat diserang pertanyaan oleh teman saya yang beragama lain yang merupakan seorang vegetarian.
   Teman saya itu, sekarang bekerja satu shift dengan saya, sering mengkritik sikap orang- orang Islam dalam kesehariannya. Pernah dia bertanya kepada kompatriotnya saat berada di mobil jemputan,"apa makna Id? Sesudah sholat terus makan- makan. Pelajaran moral apa yang didapat dari hal ini?" Waktu itu saya diam saja, karena kalaupu dijelaskan waktu yang sempit nggak bakalan cukup. Di Bulan Ramadan dia sempat bertanya kepada saya, "puasanya orang Islam itu menyiksa, andaikan kita diperbolehkan minum, pasti akan lebih baik bukan?" Waktu itu saya belum menyadari kalau dia sedang menyerang agama saya. Saya hanya menjawab,"nggak juga, buktinya tanpa makan dan minum kami tetap bisa menjalankan aktivitas seperti biasa." Saya baru sadar ketika di lain hari seorang pekerja yang seagama dengan dia bercerita bahwa hari itu adalah hari besar agama mereka dan dia sedang berpuasa, tapi puasanya boleh minum. Ah, ternyata dia membandingkan ajaran agamanya dengan agama Islam. Kemudian ketika saya sedang membaca Al Qur'an dia bertanya lagi,"memangnya kamu ngerti bahasa Arab?" Kali ini saya langsung sadar dia sedang mencibir orang Islam, langsung saya bilang,"ya, saya bisa, meski sedikit." Sedikit kan bisa juga cuma satu kata, jadi saya nggak bohong dong.
   Sebelum dia segrup dengan saya, saya pernah mendengar dari kompatriotnya bahwa dia mengkritik penyembelihan hewan untuk dimakan. Mungkin dengan alasan peri kehewanan atau apalah. Makanya saya pasang kuda- kuda kalau- kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya. Tapi setelah menunggu sekian waktu, ternyata pertanyaan itu tidak muncul juga. Bahkan dia mengakui bahwa apa yang dia perbuat tidak seluruhnya benar. Terlebih lagi, setelah saya ajak diskusi tentang agama ternyata dia mengakui bahwa Islam adalah satu- satunya agama yang masih murni. Dan dalam banyak hal yang saya beberkan ke dia, dia mengakui bahwa Islam itu simpel dan masuk akal. Dan dia sempat menyatakan bahwa Islam adalah agama terbaik, tapi penganutnya adalah penganut terburuk. Tapi hidayah  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى belum sampai kepadanya.
   Namun tidak ada salahnya pasang kuda- kuda. Jika kita berdebat dengan kaum vegetarian dan menyodorkan fakta- fakta bahwa menurut penelitian para vegetarian mempunyai masalah kekurangan nutrisi, maka merekapun akan menyodorkan fakta bahwa penyakit berat saat ini dikarenakan karena konsumsi makanan hewani, misalnya kolesterol. Hal ini tidak akan selesai.
   Maka inilah perlunya kita memikirkan ciptaan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.  Saya di sini berkesempatan menyaksikan alam dimana sukar untuk mendapatkan tanaman yang bisa dimakan oleh manusia. Sekeliling tempat saya bekerja hanya ditumbuhi semak belukar dan pohon kayu yang kebanyakan tidak berbuah dan daunnya pun tidak enak dimakan. Saya perhatikan hewan hewan yang ada di sekitar tempat itu, unta, burung, biawak, kelinci, musang, serta berbagai serangga dan hewan beracun. Kemudian saya membayangkan orang- orang yang hidup di daerah ini, apa yang mereka makan? Saya yakin, dan jika saya menjadi mereka, saya akan memakan burung, kelinci, atau biawak jika terpaksa. Kalau memungkinkan saya akan memelihara domba dan onta untuk saya minum susunya dan dimakan dagingnya. Saya tidak tahu seandainya kaum vegetarian itu hidup di tempat itu, apakah mereka berubah pikiran atau... Jangan- jangan selang beberapa hari kemudian saat saya lagi enak- enak makan daging burung panggang, orang- orang itu sedang dimakan oleh burung bangkai....

Pemandangan matahari menjelang terbenam dari daerah gurun. Tumbuhan apa yang bisa kita makan di sini?

   Maka inilah makna dari Islam ditujukan untuk semua umat manusia, yang hidup di daerah subur, gersang, padang pasir, bahkan kutub. Mungkin yang hobi memancing punya pemikiran yang sama dengan saya, ketika kehabisan bekal di tengah laut, untuk bertahan hidup tidak ada pilihan kecuali memakan ikan.

   Allahu a'lam bishshawab.

Rabu, 24 Oktober 2012

Belajar Al Qur'an Dari Orang Kafir

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ


BELAJAR AL QUR’AN DARI ORANG KAFIR

   Seringkali kita membaca Al Qur’an beserta terjemaahnya, dan mungkin juga dengan tafsirnya. Tapi sering pula kita membacanya hanya sekedar lewat. Bisa jadi karena sebenarnya Al Qur’an itu sudah sesuai hati nurani kita- sesuai dengan 'anggukan universal' menurut istilah Ary Ginanjar-, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan.
   Tapi ketika tiba-tiba kita disodori pertanyaan tentang isi Al Qur’an, kita malah bingung, karena pertanyaan ini tak pernah terlintas di benak kita, atau mungkin sekedar melintas tanpa kita mengkajinya lebih dalam. Jangan kaget, sekarang ini banyak orang kafir yang mempelajari Al Qur’an lebih serius dibanding kebanyakan umat Islam sendiri. Mereka mempelajari, bukan untuk diamalkan, tapi dicari celah- celah kelemahan Al Qur’an ini. Dan ketika mereka mengajukan pertanyaan, sebaiknya kita sudah punya pegangan. Dan yang paling penting kita harus sadar bahwa tujuan mereka bukan mencari kebenaran, tapi mau mencela Islam.
Sebagai contoh yang sempat saya lihat di internet, mereka mencela ayat Al Qur’an berikut:
QS Al Anfal (8):65-66

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ ۚ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ يَغْلِبُوا أَلْفًا مِّنَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ ﴿٦٥﴾ الْآنَ خَفَّفَ اللَّـهُ عَنكُمْ وَعَلِمَ أَنَّ فِيكُمْ ضَعْفًا ۚ فَإِن يَكُن مِّنكُم مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُمْ أَلْفٌ يَغْلِبُوا أَلْفَيْنِ بِإِذْنِ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ مَعَ الصَّابِرِينَ ﴿٦٦﴾
Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.(65)
Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang; dan jika di antaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.(66)

   Mereka mempertanyakan untuk apa Tuhannya orang Islam membuat perbandingan 20 dengan 200, 100 dengan 1000 dan 100:200 serta 1000:2000? Kenapa tidak dibikin yang simple saja, 1:10 dan 1:2? Menurut mereka ini sebuah ayat yang berbelit- belit, tapi hanya mengatakan sesuatu yang sepele.
   Jika kita yang membaca ayatnya, pasti kita akan memandangnya biasa- biasa saja, tidak ada yang ganjil. Tapi ternyata di mata orang yang kerjaannya mancari- cari kelemahan kitab sucinya orang Islam ini, itu adalah sebuah pernyataan yang aneh. Terus mesti menjawab gimana? Tentunya kita tidak akan membiarkannya begitu saja. Kita mesti tahu jawabannya.
   Pertama, mereka pun sebenarnya mengakui (sadar ataupun tidak) bahwa ayat di atas secara ilmu matematika 100% benar.
   Kedua, mungkin mereka hanya melihat angka- angkanya saja tanpa menengok kondisinya, dalam hal ini angka tersebut menyatakan jumlah pasukan perang. Saya kira mereka terlalu banyak dipengaruhi film- film Hollywood yang bintang utamanya bisa mengalahkan musuh yang berjumlah ratusan, atau bahkan senegara hanya dengan seorang diri. Sedangkan ayat ini berbicara tentang realita, bukan film atau angan- angan.
   Kita bisa bayangkan seandainya dikatakan 1 orang bisa mengalahkan 10 orang, pasti yang terbayang di benak kita adalah sebuah film action fiktif. Atau bisa jadi 1 orang berotot mengalahkan 10 orang yang terjangkit gizi buruk. Tapi kan namanya pasukan perang, ya pasti dipilih yang perkasa- perkasa, di kedua belah pihak. Artinya kekuatan mereka berimbang. Kita bisa saksikan, seorang petinju sangat bekerja keras hanya untuk mengalahkan lawannya yang hanya satu orang, yang bobot tubuhnya seimbang. Kita juga bisa lihat di ajang UFC, Taekwondo, Gulat, dsb, semua dalam kondisi yang sama. Apa jadinya kalau satu petinju menghadapi 2 lawan yang besar badannya sama, pasti susah mengimbanginya.
   Tapi dengan jumlah yang agak banyak, dicontohkan minimal 10 orang, kita bisa menyusun taktik. Taktik bisa dipakai dalam mengelabuhi lawan. Dengan pengaturan barisan tertentu, kita susah membedakan antara 100 orang atau 1000 orang. Bisa jadi dengan cara tertentu 100 pasukan bisa terlihat sebanyak 1000 orang, atau sebaliknya untuk mengelabuhi musuh, 1000 orang dibariskan seperti hanya 100 orang saja. Atau bisa digunakan taktik membagi peran. Misalkan ada pasukan infantri, kaveleri, pasukan panah atau penembak, dll yang saling mendukung.
   Contohnya pasukan Thalut yang sedikit bisa mengalahkan pasukan Jalut yang jauh lebih banyak dengan strategi ‘shift’nya. Atau Khalid bin Walid dengan strategi zig-zagnya yang bisa membuat 3.000 tentara muslim ditakuti 200.000 pasukan Romawi dalam perang Mu’tah. Mungkin kalau dicontohkan di film bisa dilihat di film ‘300’ (meski film Hollywood juga, tapi agak realistis).
   Bayangkan jika maju sendirian, mau pakai strategi yang gimana? Paling juga modal otot atau olah senjata, atau modal nekat doang. Paling pol strategi bom bunuh diri.
   Tapi bisa jadi, tanpa pertanyaan dari si kafir tadi, kita tidak akan mengambil pelajaran dari ayat di atas dan sejarah Islam yang kita pakai untuk menyanggahnya. Jadi, gara- gara si kafir, kita jadi mempelajari Al Qur’an dan Islam lebih banyak.
   By the way, QS 8:65-66 di atas menggambarkan menurunnya kualitas kesabaran kaum muslimin berdampak menurunnya pula kualitas berperang mereka, atau menurunnya kadar pertolongan الله bahkan cuma tinggal 20% saja (dari 1:10 tinggal 1:2). Sekali lagi, yang turun kualitas kesabarannya, gimana kalau yang turun kualitas imannya?
Wallahu a’lam bishshawab.

Kamis, 11 Oktober 2012

Terorisme Di Indonesia, Siapa Yang Terteror?

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

TERORISME DI INDONESIA, SIAPA YANG TERTEROR? 

   Beberapa tahun belakangan ini isu teror bom sering menghiasi berita di berbagai media massa di negeri kita. Sejak terjadinya kasus bom Bali 12 Oktober 2002, seolah- olah teror bom terus menjadi bahan berita yang hadir dari waktu ke waktu, sampai kasus di Solo yang belum lama ini berlalu. Dan bukan menjadi rahasia lagi bahwa pelaku teror tersebut selalu dikaitkan dengan sekelompok orang yang oleh pihak berwenang diidentifikasi sebagai penganut agama Islam. Dan secara khusus mereka menuding sebuah pondok pesantren.
   Tentu banyak pertanyaan tentang siapa sebenarnya pelaku teror tersebut, apa motifnya, dan lain sebagainya. Banyak ulama yang berpendapat seandainya memang pelaku teror itu orang Islam, maka mereka itu sebenarnya tidak mengamalkan ajaran Islam dengan benar, atau salah dalam memahami ajaran Islam. Atau bisa jadi pelakunya hanya mengaku- aku beragama Islam untuk menodai citra Agama Islam. Kita masih menunggu yang sebenarnya.
   Kalau kita lihat sasaran teror- teror yang telah terjadi, maka kita tidak akan menemukan secara khusus siapa atau apa target teror tersebut. Jika kita simpulkan bahwa targetnya adalah orang- orang yang gemar hura- hura, maka cara yang ditempuh mestinya tidak akan mencelakai orang yang tidak suka berhura- hura. Tapi kenyataannya korban yang jatuh tidak pandang bulu, baik yang sedang hura- hura atau yang kebetulan melintas di dekat TKP. Begitu pula kasus yang lain, selalu terjadi di tempat umum yang besar kemungkinan tidak hanya orang non muslim yang ada, tapi sangat mungkin ada orang Islam juga di tempat itu. Apalagi jika kita lihat kasus penembakan polisi di Solo, maka sangat jauh dari target itu. 
   Maka kita lihat apa efeknya sekarang terhadap masyarakat. Kelompok masyarakat mana yang terteror dengan adanya aksi- aksi teror yang telah berlalu. Apakah orang yang gemar pergi ke diskotik atau ke tempat maksiat lain akan berpikir kalau- kalau tempat yang akan dikunjunginya nanti akan dibom? Saya rasa jangankan berpikir ke situ, berpikir kalau- kalau dirinya akan mati karena overdosis, atau kecelakaan saat pulang dari tempat maksiat karena mengemudi dalam keadaan mabuk-pun mereka tidak memusingkannya. Apalagi tempat maksiatnya dibom orang, kemungkinannya jauh lebih kecil dibanding resiko overdosis atau kecelakaan lalulintas.
   Bagaimana dengan pihak yang bergantung banyak pada industri pariwisata? Saya sempat ngobrol dengan teman saya pemilik agen penjualan tiket bus di Terminal Bus Umbulharjo Yogya (waktu itu terminalnya masih belum pindah) beberapa waktu setelah terjadinya bom Bali, dia mengeluh bahwa penjualan tiket bus ke Denpasar turun drastis. Tapi tidak sampai berselang 1 tahun, kondisinya sudah jauh membaik. Dan kita semua pun tahu bahwa memang dalam waktu yang relatif singkat periwisata di Bali sudah pulih seperti sebelum kasus bom Bali tersebut. 
   Lalu siapa lagi? Apakah pemerintah, tentara, atau polisi? Bagi pemerintah (dengan mengabaikan prasangka buruk sebagian masyarakat pada pemerintah) hal tersebut bisa disebut wajar, tentu ada orang yang senang dan ada yang tidak senang. Bagi polisi atau tentara, tentu sebelum mendaftarkan diri sebagai pelindung masyarakat mereka sudah tahu resiko yang dihadapi, teroris adalah salah satunya. Bahkan mereka berani bilang, kalau takut peluru nggak usah jadi tentara atau polisi.
   Siapa lagi, musuh masyarakat mungkin, sebutlah koruptor. Seingat saya tidak ada korban dari terduga kasus korupsi diantara korban- korban teror tersebut. Seluruh korban bisa disebut sebagai orang awam atau rakyat jelata, meskipun warga negara asing.
   Tapi jika kita cermati dari obrolan di sekitar tempat tinggal kita, ada satu hal yang bisa saya tangkap, yang saya simpulkan inilah efek teror- teror itu.  Orang- orang mulai hilang kepercayaan terhadap para ulama, atau terhadap orang yang sekedar berakhlak baik (masyarakat biasanya menyebut sebagai 'orang alim'). Setidaknya ada sedikit rasa curiga kepada orang yang rajin ke masjid, jangan- jangan...
   Lebih jauh lagi orang tua mulai berpikir berkali- kali jika ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah Islam atau pondok pesantren. Jangan- jangan nanti diajari jadi teroris, begitu kekhawatiran mereka. Akhirnya mereka menyekolahkan anaknya ke sekolah umum yang sudah pasti kadar pendidikan Agama Islamnya jauh di bawah sekolah- sekolah Islam, Madrasah, atau pondok pesantren. Secara tidak langsung mereka menjauhkan, atau setidaknya memberi jarak anak mereka dengan ilmu Agama Islam. Ini terbukti ketika anak saya yang bersekolah di SDIT kelas 1 mendapat pelajaran tentang komputer dan bagian- bagiannya, serta cara kerja mesin ATM, maka orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah umum berkomentar dengan serius, "wah awas tuh, nanti lama-lama diajari bikin bom." Dan saya yakin banyak pula cerita serupa. Silahkan anda survey masyarakat sekitar anda, niscaya anda berkesimpulan yang sama dengan saya.
   Menurut saya masyarakat muslimlah yang merasakan teror lebih dalam. Mereka malah berprasangka buruk dengan orang yang rajin beribadah, orang yang justru semestinya bisa dipercaya. Kalau orang baik- baik mereka jauhi, mau bergaul dengan siapa lagi? Mereka ketakutan untuk menyekolahkan anak- anak mereka ke lembaga pendidikan Islami. Padahal perbaikan akhlak hanya akan tercapai jika anak- anak kita mendapat ilmu agama yang cukup. Dan perasaan demikian ini bertahan dalam waktu yang lama, bahkan mungkin makin lama makin terasa. Bandingkan dengan efek bom Bali terhadap kondisi pariwisata di Bali, mungkin hanya sekitar 1 tahun. Perhatikan juga efek bom di Hotel Marriott, bom dan penembakan di Solo, semua hanya terasa sebentar. Jika kondisinya demikian, pihak mana yang diuntungkan, kita sudah tahu.
   Tapi mari kita ambil pelajarannya. Tentu kita tidak boleh membiarkan anak kita jauh dari ilmu Agama Islam. Tapi jangan sampai pula anak kita terjerumus kedalam hal yang tidak kita inginkan. Di sinilah peran kita sebagai orang tua dituntut lebih waspada. Orang tua seyogyanya mengerti ilmu agama pula, sehingga mampu memilah dan memilih lembaga pendidikan mana yang benar- benar mengajarkan Agama Islam yang sesungguhnya. Kita tidak bisa melepaskan anak kita begitu saja kepada pihak sekolah, madrasah, maupun pesantren. Kita harus aktif mengontrol anak- anak kita. Jika menurut kita ada penyimpangan dari tingkah laku anak kita, atau pelajaran yang dia terima, kita bisa segera menentukan sikap. Dan tanpa memahami ilmu agama, mustahil kita bisa mengontrol anak kita dengan baik. Inilah tantangan kita saat ini.

وَمَكَرُ‌وا وَمَكَرَ‌ اللَّـهُ ۖ وَاللَّـهُ خَيْرُ‌ الْمَاكِرِ‌ينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS Ali Imran 3:54)

Allahu a'lam bishshawab. 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Al Qur'an Sebagai Karya Ilmiah Modern

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

 AL QUR'AN SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH MODERN

   Kita tentunya sangat familiar dengan karya tulis ilmiah. Ini adalah karya tulis yang berisikan hal- hal yang bersifat riil, bukan rekayasa, fiksi atau imajinasi. Sumbernya bisa berupa pengalaman, pengamatan, penelitian, dan lainnya. Bagi yang pernah belajar di bidang tehnik, tentu mengenal karya tulis seperti ini, karena paling tidak kita harus menyusunnya paling tidak sekali dalam tingkatan pendidikan kita. Sebutlah contohnya skripsi. Bagi saya yang hanya lulusan STM, paling tidak sudah pernah menyusun Laporan Praktek Kerja Lapangan.
   Tentu pula kita tahu bahwa syarat untuk menjadi karya tulis ilmiah yang benar paling tidak atau intinya berisikan 3 bab. Bab 1 adalah Pendahuluan, Bab 2 adalah Isi, dan Bab 3 adalah Penutup. Masing- masing bab bisa diperluas lagi sesuai kreativitas atau keinginan penulis. Tapi intinya tetap 3 itu saja. Saya hanya mengambil contoh sedikit saja, tentu yang pernah saya susun mengenai penelitian.
   Bab 1 atau Pendahuluan/ Pembuka biasanya berisi pemaparan suatu masalah. Masalah yang akan dibahas dalam karya tulis tersebut dibahas secara sekilas agar pembaca mempunyai gambaran tentang isi karya tulis tersebut.
   Bab 2 yang berisi pokok pembahasan menerangkan dengan detail masalah yang diutarakan. Mulai dari awal masalah, efeknya, analisis, problem solving, dan hasil dari usaha yang dilakukan. Semua diterangkan secara detail agar pembaca memahami betul tiap langkah yang dilakukan.
   Bab 3 atau Penutup, isinya hampir sama dengan Pembuka, yaitu dengan membahas kembali masalah yang dikaji. Bedanya di bagian Penutup, penulis menyampaikan cara menyelesaikan masalah tersebut secara ringkas yang biasa disebut Kesimpulan. Dalam bab ini pula penulis berharap karya tulisnya bemanfaat, maka tenti saja apa yang ia tempuh untuk menyelesaikan masalah tersebut diikuti oleh pembaca, maka penulis memberikan Saran kepada pembaca jika menemui masalah serupa.

   Apakah Al Qur'an juga memenuhi syarat dan kaidah untuk bisa disebut sebagai sebuah karya tulis ilmiah modern? Kita lihat Al Qur'an versi Utsman bin Affan r.a ini.
  • Bab Pendahuluan/ Pembuka, tentu semua muslim tahu bahwa Al Qur'an dibuka atau diawali dengan surat Al Fatihah yang artinya 'Pembukaan'.
  • Bab Isi, yaitu penjelasan detail tentang 'jalan yang benar/ lurus' itu dan bagaimana cara menempuhnya. Ini dirinci dari Surat Al Baqarah sampai Al Falaq, ada juga yang berpendapat sampai Surat Al Lahab.
  • Bab Penutup, sebagian ulama berpendapat bab ini dimulai dari Surat Al Ikhlas sampai An Naas, ada juga yang berpendapat hanya Surat An Naas saja.
   Dalam Bab Pendahuluan, yaitu Surat Al Fatihah, diungkapkan permasalahan utama yang dihadapi manusia dalam hidup ini, yaitu mencari jalan yang benar, yang membawa kebahagiaan, dan terhindar dari kenistaan. Di sini diwakili oleh ayat "tunjukannlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat."
   Dalam Bab Inti atau Isi, dijabarkan dengan terperinci tentang jalan itu, serta bagaimana cara menjalaninya, dan membahas pula jalan yang tidak boleh dilalui tersebut.
   Dalam Bab Penutup, yaitu Surat An Naas, disimpulkan bagaimana cara agar berhasil melalui jalan tersebut tanpa tersesat ke jalan yang lainnya, ini terwakili dalam ayat "aku berlindung kepada (Allah)....dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. dari (golongan) jin dan manusia."

   Tadi kita singgung bahwa Bab Pembuka dan Bab Penutup harus selaras atau mirip, maka kita bandingkan:

Surat Al Fatihah:
  1. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
  2. Segala puji bagi Allah, Rabb(1) semesta alam,
  3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
  4. Yang menguasai (Raja)(2) hari pembalasan.
  5. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan(3)
  6. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
  7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Surat An Naas:
  1.  Katakanlah: "Aku berlindung kepada Rabb(1) (yang memelihara dan menguasai) manusia.
  2.  Raja(2) manusia.
  3.  Sembahan (ilah)(3) manusia.
  4.  dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,
  5.  yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
  6.  dari (golongan) jin dan manusia.
Kita lihat persamaannya (yang saya ketik dengan huruf miring):
  1. Kata 'Rabb' ada pada kedua surat tersebut.
  2. Kata 'Maalik' dan 'Malik' yang maknanya serupa ada pada kedua surat tersebut.
  3. Kata 'ilah' dalam surat An Naas berarti sama dengan 'yang diibadahi dan dimintai pertolongan' yang ada di Surat Al Fatihah.
  4. Inti masalah yang tercantum dalam Surat Al Fatihah dijawab dengan ringkas di Surat An Naas, seperti yang telah kita bahas sebelumnya.
   Jadi sudah sangat jelas keterkaitan Surat Al Fatihah sebagai Bab Pembuka dengan Surat An Naas sebagai Bab Penutup. Perbedaan Bab Penutup dari Bab Pembuka/ Pendahuluan adalah adanya Saran. Anda pasti sudah menemukannya di Surat An Naas.
   Saran pada intinya menyuruh penbaca untuk melakukan apa yang diinginkan atau direkomendasikan penulis. Tentu saja biasanya penulis akan mengemukakannya dengan kalimat yang halus atau sopan. Misalkan jika kita menulis tentang 'Cara Mencuci Yang Baik', kita tidak bisa menuliskan 'Pisahkan pakaian yang putih dari yang berwarna', tentu lebih baik ditulis 'Pakaian yang putih sebaiknya dipisahkan dari pakaian yang berwarna'. Padahal tujuannya sama, yaitu menyuruh atau merekomendasikan pembaca untuk memisahkan pakaian putih dengan yang berwarna jika akan mencuci.
   Kita lihat bahwa Surat An Naas ini didahului oleh kata perintah, yaitu 'qul' yang artinya 'katakanlah'. Bab Penutup ini memberi saran kepada pembacanya untuk terus meminta perlindungan kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Tentunya caranya sudah diulas di Bab Isi.
   Maka, Subhanallahu wallahu akbar, ternyata Utsman bin Affan r.a pada 14 abad yang lalu telah menyusun Al Qur'an ini dengan metode yang diakui oleh para ahli penulisan di era modern ini. Tentu kita yakini bahwa penyusunan ini tidak semata- mata menurut selera sang Khalifah, tapi atas bimbingan Sang Penyusun yang Haq, Yaitu اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

Allahu a'lam bishshawab.