Sabtu, 15 September 2012

Ilmu Sesat Yang Menuntun Kepada Hidayah

 بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

Ilmu Sesat Yang Menuntun Kepada Hidayah
 (Jika Anak Kita Bertanya)

   Pernah suatu ketika saat saya sedang membaca buku yang temanya nyeleneh, teman saya melihat dan bertanya,"ngapain baca buku gituan? Bagi saya yang penting kita tahu, ya sudah, nggak perlu dibahas kesana- kemari". Saya hanya menjawab, bahwa saya perlu tahu wawasan orang lain, baik sepaham atau tidak dengan kita, supaya nanti jika harus menjawab pertanyaan atau menjelaskan kepada orang lain, kita sudah mengerti permasalahannya. Ada juga yang menegur istri saya ketika istri saya bertanya kepada ustadz yang menurut pandangan mereka aqidahnya tidak lurus, sudah tahu aqidahnya salah masih ditanyain, begitu kira- kira teguran mereka. Istri saya menjawab,"kita perlu tahu dong kenapa mereka melakukan ini- itu, supaya nanti jika anak saya menemui hal semacam itu, saya bisa menjelaskannya".    Kadang- kadang kita berani mengatakan suatu perbuatan atau pemahaman orang lain salah, tanpa kita tahu alasan mereka melakukannya. Mungkin mereka mempunyai dalil yang kita belum tahu atau terpikir. Saya beri satu contoh yang populer. Banyak orang yang berziarah kubur ke makam Wali (9) atau ulama- ulama yang dianggap berjasa dalam penyebaran Agama Islam. Banyak dari mereka yang ketika berada di samping makam Sang Wali meminta agar Sang Wali mendo'akan mereka. Atau membaca do'a dalam bahasa Arab yang diberikan (dijual) oleh panitia pengurus makam, yang menurut penyelidikan beberapa da'i, ternyata isinya meminta agar Sang Wali mendo'akan mereka. Banyak orang yang memvonis perbuatan ini termasuk perbuatan musyrik. Apakah anda termasuk yang memvonis syirik? Kalau iya, tunggu dulu.
   Saya mengetahui bahwa ada sebagian dari mereka yang mempunyai dalil dari Al Qur'an yang (menurut mereka) membenarkan perbuatan ini. Sudahkah anda tahu? Dalilnya Al Qur'an lho, jangan main- main! Silahkan simak QS 2: 154 dan QS 3: 169.

وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّـهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَـٰكِن لَّا تَشْعُرُ‌ونَ

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS 2: 154)


وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّـهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَ‌بِّهِمْ يُرْ‌زَقُونَ

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. (QS 3:169)

Jadi menurut mereka, Sang Wali ini masih hidup, karena mereka gugur sebagai syuhada, sah- sah saja dong minta dido'akan orang yang masih hidup, ya, to? Bayangkan jika kita tidak tahu dalil ini dan terlanjur memvonis mereka musyrik. Bisa- bisa mereka menjawab,"ini menurut Qur'an, lho. Anda percaya Qur'an nggak? Kalau percaya, jangan memvonis saya sebagai orang musyrik. Kalau tidak percaya Qur'an, berarti sampeyan ini orang kafir!" Nah lho, malah kita yang terkena vonis kafir. Masih mau memvonis mereka musyrik? Silahkan cari alasan yang lain. Bagi saya jika mereka mengetahui sifat- sifat اللَّـهُ , itu akan jauh lebih berarti. Tugas kita membetulkan aqidah mereka (tentu saja aqidah kita terlebih dahulu). 
   Maka dari itu mempelajari ilmu yang 'nyeleneh'pun perlu. Tentu lebih diutamakan belajar ilmu yang benar. Secara sedarhana, jika kita ingin membangun rumah yang aman dari maling, kita harus tahu 'ilmu maling'. Kita mesti tahu maling itu kira- kira akan masuk dari mana. Kalau ada kemungkinan dari jendela, ya kita pasang teralis. Maling bisa dengan mudah melepas engsel pintu jika arah terbukanya pintu adalah keluar, maka kita bikin pintu yang jika membuka daunnya ada di dalam, dst...dst... Itu semua memungkinkan jika kita tahu ilmu maling tadi, baik melalui belajar, pengalaman, maupum naluri.
   Dan terkadang untuk mengetahui kebenaran, kita juga harus mengetahui mana yang salah. Makanya Al Qur'an disebut Al Furqon karena menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah. Nabi Ibrahim a.s pun sebelum menemukan kebenaran, yaitu اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah Tuhan alam ini, mempelajari ilmu, yang pada akhirnya beliau sadar bahwa ilmu itu sesat, yaitu menuhankan bintang, bulan, dan matahari.
   Ada kisah unik dalam Al Qur'an, dimana ilmu sesat justru menuntun pada hidayah. Alkisah Fir'aun memandang mu'jizat Nabi Musa a.s sebagai sihit. Maka dari itu ia mengumpulkan ahli- ahli sihir se Mesir untuk mengalahkan sihir Musa a.s itu, dengan imbalan kedudukan yang tinggi jika mereka berhasil. Tatkala Musa a.s dan para penyihir itu telah berhadapan, maka Musa a.s mempersilahkan mereka untuk melakukan atraksinya terlebih dahulu. Merekapun mempraktekkan ilmu sihir mereka. Tali- tali dan tongkat yang mereka lemparkan seolah- olah menjadi ular dalam pandangan orang awam. Kemudian Musa a.s melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular besar yang memakan 'ular- ular' kecil milik para penyihir tersebut atas izin اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Para penyihir, yang tentu saja tahu betul seluk beluk persihiran paham bahwa apa yang dilakukan Musa a.s bukanlah sihir, melainkan mu'jizat. Seketika mereka menyatakan beriman kepada Tuhannya Musa a.s. Bahkan mereka sangat kokoh imannya, sehingga ancaman potong tangan dan kaki dari Fir'aun pun tidak menyurutkan iman mereka. Bagi orang- orang yang tidak paham ilmu persihiran, mereka menganggap para tukang sihir itu kong kalikong dengan Musa a.s untuk mengelabuhi Fir'aun dan kaumnya. Dan mereka tetap dalam kekafirannya. (QS 20: 63- 73)   
   Demikianlah, ilmu sesat semacam sihir (QS 2: 102) ternyata bisa juga membawa rahmat bagi pemiliknya. Yang menjadi dasar adalah hati nurani. Para tukang sihir Fir'aun mengikuti hati nurani mereka yang membenarkan mu'jizat yang dibawa Musa a.s. Jadi, jika kita mampu mengikuti hati nurani, maka kita akan bisa mengendalikan ilmu yang kita miliki. 
Allahu a'lam bishshawab.

Selasa, 11 September 2012

Kok Abu Jahal Yang Ketiban Julukan Abu Jahal?


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

 KOK ABU JAHAL YANG KETIBAN JULUKAN ABU JAHAL?
   Kok judulnya tumpang tindih, ya? Soalnya kalau diganti ‘Biografi Nggak Komplet Abu Jahal’ juga tetap nggak mutu. Dan nama Abu Jahal adalah yang paling populer diantara nama- nama lain yang disandang tokoh yang dimaksud. Jadi terinspirasi sebuah karya sastra lama (sudah lupa apa prosa, cerpen, atau novel, dan juga penulisnya, maklum sudah sejak jaman SMP) berjudul Open.
Dalam masyarakat Arab, sesuai survey lapangan (bukan menurut kamus manapun), kata ‘abu’ bisa berarti bapak, bisa juga berarti orang yang mempunyai(sesuatu yang khas/ istimewa). Contoh yang berarti bapak/ bapaknya: Abu Thalib berarti bapaknya Thalib, Abu Said artinya bapaknya si Said. Contoh yang berarti yang mempunyai: yang sekarang ada Abu Shareb artinya laki- laki yang mempunyai kumis yang cukup mencolok, bisa kita katakan dalam bahasa Indonesia Pak Kumis. Jaman Nabi SAW ada Abu Hurairah yang artinya orang yang mempunyai banyak kucing karena beliau suka dengan kucing. Ada lagi Abu Lahab yang artinya orang yang mempunyai nyala api karena dipipinya terdapat rona merah. Ali r.a dipanggil Abu Thurab (yang mempunyai debu) karena suatu saat Rasulullah SAW pernah menemui beliau ketika banyak debu yang menempel di bajunya.
   Jadi Abu Jahal bisa berarti ‘bapaknya kebodohan’ atau ‘orang yang mempunyai kebodohan’. Dari mana dapatnya? Kenapa dia yang ketiban julukan yang amat buruk ini, padahal dia bukan satu- satunya pemuka Suku Quraisy yang memusuhi Rasulullah SAW. Ada Abu Lahab yang secara terang- terangan maupun dari belakang menghalangi dakwah beliau SAW. Ada pula Umayah bin Khalaf yang sangat membenci Islam. Tentu semua tahu bagaimana perlakuannya kepada Bilal bin Rabbah. Kemudian juga ada Abu Sufyan, sang menteri perekonomian Quraisy.
   Nama aslinya Amr bin Hisyam, oleh masyarakat Quraisy biasa disebut atau dipanggil Abal Hakam, artinya orang yang mempunyai hukum atau ringkasnya ahli hukum. Dialah hakim untuk kaum Quraisy, karena dia menguasai undang- undang suku Quraisy. Dan dia adalah salah seorang dari ‘dua Umar’ yang oleh Nabi SAW didoakan supaya salah satunya mendapat hidayah dari Allah SWT untuk masuk Islam. Tapi ternyata Allah SWT memilih memberikan hidayahNya kepada Umar yang satunya, ibnu Khattab.
   Pada waktu itu kaum Quraisy tidaklah bisa dikatakan kaum yang bodoh ataupun tertinggal. Terbukti mereka sudah mahir dalam berdagang. Dan tentu saja dalam bidang sastra mereka sangat terkenal. Jadi siapa yang memberikan istilah ‘Jaman Jahiliyah’ untuk jaman itu? Ya, tentu saja  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى melalui RasulNya Muhammad SAW. Dan wahyu yang pertama kali turun yang berisikan kata ‘jahiliyah’ menurut beberapa sumber adalah QS Al Maidah (5) ayat 50:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّـهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴿٥٠﴾
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS 5:50).
   Ternyata ayat yang pertama kali memakai kata jahiliyah adalah untuk menyebut hukum yang mereka (Kaum Quraisy) pakai. Jadi menurut  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  hukum yang mereka pakai adalah hukum yang sangat bodoh, tertinggal, nggak mutu. Kalau seseorang mempunyai anak buah (preman), kemudian preman- preman itu suka membuat kerusuhan, maka orang itu bisa disebut sebagai bapak/ mbah/ biangnya kerusuhan.
   Demikian pula nasib Abal Hakam (Abu Al Hakam), karena hukum yang ia kuasai dan ia praktekkan ternyata dicap sebagai hukum yang bodoh dan tertinggal, maka produknya pun sudah pasti bodoh dan tertinggal. Karena Hakam (versi Quraisy)= Jahal (atau jahil versi  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى lewat QS 5: 50 di atas) akhirnya namanya diubah oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  menjadi Abu Jahal.
Jadi, begitulah kenapa Abu Jahal mendapat julukan Abu Jahal*.
Allahu a’lam.
 
*Terinspirasi dari kata- kata:..jadi, begitulah kenapa Open diberi nama Open.

Kamis, 06 September 2012

Beriman atau Kafirkah Kita?


بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

Beriman atau Kafirkah Kita?

   Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, banyak orang Islam yang cukup puas hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat saja, kemudian yakin nanti di akherat akan masuk syurga. Ternyata اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak percaya begitu saja. Dia merasa perlu untuk membuktikan ucapan kita. Mari kita simak QS 29:2

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَ‌كُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 
  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

 Ini sangat wajar dan masuk akal. Karena iman itu 'diyakini dalam hati, diikrarkan dengan ucapan, dan dilakukan dengan amal'. Apakah اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى tidak mengetahui isi hati kita, sampai- sampai perlu nge-test kita. Bukan demikian, sesungguhnya اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  mengetahui segala isi hati, seperti tercantum di ayat berikutnya, QS 29: 3

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّـهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.  

   Terus buat apa di-test segala? Supaya menjadi bukti bagi diri kita sendiri. Jadi untuk mengukur apakah kita benar- benar beriman atau tidak, kita sendiri sudah tahu jawabannya, tentu jika kita mau mengevaluasi diri, instropeksi.

   Telah banyak pembahasan tentang hal- hal yang menggugurkan iman, saya hanya ingin menyodorkan sedikit dalil, yang mungkin sangat dekat dengan lingkungan kita. Ini saya sampaikan agar kita semua semakin berhati- hati agar kita tidak 'murtad tanpa sadar'. Artinya hal- hal yang menurut kita sepele atau umum dilakukan orang, ternyata bisa mengeluarkan kita dari status beriman, tentu saja di sisi اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .

   Kita lihat kasus riba. Sebelumnya saya pikir ada baiknya jika terjemahan ' hai orang- orang yang beriman' saya modifikasi dengan 'hai orang- orang (yang merasa/ mengaku) beriman'. Saya rasa tidak mengubah makna secara drastis.
QS: 2: 278

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَذَرُ‌وا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّ‌بَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ 

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
  
Kita lihat, ayat ini ditujukan untuk orang- orang beriman, atau seperti saya tulis di atas, untuk orang- orang yang merasa atau mengaku beriman. Kemudian اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberikan perintahNya, yaitu orang- orang yang merasa/ mengaku beriman tersebut dilarang mengambil sisa riba. Artinya setelah turun ayat ini orang beriman tidak boleh melakukan praktek riba. Kemudian di akhir ayat, ada sebuah penegasan, yaitu jika kamu orang- orang yang beriman.Artinya, jika orang- orang yang merasa/ mengaku beriman tersebut meninggalkan riba, barulah mereka dibilang benar- benar beriman! Kalau mereka tetap dalam praktek mengambil riba, artinya mereka tidak benar- benar beriman alias imannya cuma di bibir saja. Masih bingung? Kita baca ayat selanjutnya QS 2: 279
 
  فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْ‌بٍ مِّنَ اللَّـهِ وَرَ‌سُولِهِ ۖ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُ‌ءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ   

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Nah, kalau tidak meninggalkan riba akan diperangi oleh Allah dan RasulNya. Apa ada orang beriman diperangi Allah dan Rasul? Kalau ada berarti ya cuma mengaku- aku beriman, artinya yang tidak lulus dalam ujian. Jadi kesimpulan yang saya pahami, melakukan praktek riba menggugurkan iman kita.

   Ada lagi yang menarik, sebuah hadits yang sangat populer. Hadits dari Mutafaqun 'Alaih "Al Bayan" hadits no. 32 tentang amar ma'ruf nahi munkar:

"Siapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah merubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah dengan lidahnya. Kemudian kalau tidak mampu juga, hendaklah dengan hatinya. Itulah selemah- lemah iman."

Sangat populer, hampir semua orang tahu. Tapi kita coba cermati, selemah- lemah iman, berarti di bawah tingkatan ini adalah tidak beriman, benar bukan? Kalau hati kita masih memandang perbuatan mungkar yang dilakukan orang lain adalah memang perbuatan mungkar, berarti kita masih beriman. Lalu, bagaimana dengan orang yang melakukan kemungkaran, meskipun hanya kemungkaran kecil atau sangat ringan? Ambilah contoh taruhan ketika bermain badminton misalnya, yang kalah menraktir minuman energi. Atau kesebelasan yang yang dijagokannya kalah, dia harus menraktir mie telor. Tetap ini adalah kemungkaran. Jadi, masih termasuk 'selemah- lemah iman' tidak, ya? Saya berani menjawab: TIDAK! Dan anda pasti setuju. 

   Logika yang bisa dipahami, bukan? Jadi saya berdo'a mudah- mudahan kita terhindar dari perbuatan yang 'memurtadkan' kita, yang mungkin tidak kita sadari. Bagaimana rasanya sudah yakin masuk surga, eh, batal gara- gara sebotol minuman energi, atau semangkuk mie telor, atau karena mengirim sms sambil berharap mendapat uang jutaan rupiah. Dan karena tidak menyadari, tahunya saat sudah di Padang Mahsyar, telat deh. 
Allahu 'lam bishshawab. 

Rabu, 05 September 2012

Bersyahadat Dua Kali

 Bersyahadat Dua Kali

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

   Saat ini banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi tingkah lakunya tidak mencerminkan sebagai seorang muslim. Bahkan Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam justru lebih terkenal sebagai negara koruptor, gudang bencana, dan setumpuk julukan yang sangat buruk. Jelas kondisi seperti ini disebabkan karena orang- orang yang mengaku beragama Islam itu jauh dari ajaran- ajaran Islam.
    Ada lagi faham yang menurut saya adalah sumber dari jauhnya umat Islam dari ajaran Islam. Faham itu berupa pemahaman bahwa cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka akan masuk syurga, meskipun mampir dulu di neraka. Mereka merasa cukup dengan adanya jaminan masuk syurga tersebut. Mereka berpikir "nggak apa- apalah masuk neraka dulu, cuma sebentar ini, ntar juga masuk syurga akhirnya". Saya jadi terperanjat ketika membaca QS 3: 24 yang bunyinya:

   ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَن تَمَسَّنَا النَّارُ‌ إِلَّا أَيَّامًا مَّعْدُودَاتٍ ۖ وَغَرَّ‌هُمْ فِي دِينِهِم مَّا كَانُوا يَفْتَرُ‌ونَ


Hal itu adalah karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.

 Jadi orang yang menganggap akan masuk neraka sementara saja kemudian dipindah ke syurga, اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menjustifikasi mereka diperdaya oleh agama yang telah mereka ada- adakan. Hal ini sudah saya bahas sekilas di posting sebelumnya berjudul 'Jangan Nunggu Nanti Di Akherat'.

  Oleh karena mereka sudah merasa dijamin masuk syurga inilah (yang kalau kita baca QS 3: 24 di atas adalah pengaruh Yahudi), maka mereka seenaknya saja berperilaku. Seolah- olah kita yang sudah membawa tiket pesawat tenang- tenang saja menunggu sampai antrean para TKW yang berdesak- desakan untuk masuk ke pesawat habis, baru kita beranjak dari kursi tunggu, toh akhirnya kita nanti juga masuk dan pasti kebagian tempat duduk. Dalam hal ini kita tidak perlu ikut- ikutan berdesak- desakan. Pun orang- orang yang berpaham 'nanti juga masuk syurga', santai saja mereka, tidak lagi punya ghirah dalam beragama. Hilanglah slogan 'berlomba- lombalah dalam kebaikan'.  

   Mereka sejatinya tidak tahu arti mengucapkan dua kalimat syahadat itu, tidak tahu konsekwensinya, tindak lanjutnya. Yang penting, mengucapkan dua kalimat syahadat = mendapat tiket ke syurga. Tak peduli di dunia ini tidak pernah sholat, tidak pula bayar zakat, korupsi se'pol'nya, suka menyakiti orang lain, dsb. Mereka tidak mengerti bahwa setelah mengikrarkan dua kelimat syahadat itu, banyak sekali konsekwensi yang harus ditanggung. Tapi ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang berfaham seperti ini, bahkan orang dari suku Arab-pun banyak yang berfaham serupa.

  Sudah banyak ulama yang membahas arti dan konsekwensi dari bersyahadat ini. Di sini saya hanya ingin mengingatkan kita, termasuk diri sendiri, ternyata kita sudah bersyahadat dua kali, yaitu di alam arwah sebelum kita lahir, dan saat kita mengikrarkan diri kita sebagai seorang muslim.

   Kita sudah tahu bahwa kalimat syahadat kita saat kita berikrar untuk beragama Islam adalah: asyhadu anlaa ilaaha illallah, wa asyhadu ana muhammadarrasulullah. Lalu bagaimana syahadat kita di alam arwah? Ini terdapat dalam QS 7: 172,


وَإِذْ أَخَذَ رَ‌بُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِ‌هِمْ ذُرِّ‌يَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَ‌بِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَـٰذَا غَافِلِي

 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Dari ayat di atas اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bertanya kepada tiap- tiap jiwa: bukankah aku ini rabb-mu? (alastu birabbikum?) kemudian tiap- tiap diri kita menjawab: betul, kami bersaksi (bala syahidna). Ada pula yang menterjemahkan 'kami menjadi saksi'. Ada perdebatan mengenai terjemaah ini, tapi bagi saya sama saja, meski saya lebih cenderung yang 'kami bersaksi', tapi toh kalau 'kami menjadi saksi' ya artinya menjadi saksi untuk dirinya sendiri, bagi siapa lagi? Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah syahadat ini berlaku untuk tiap- tiap jiwa, artinya sejak jaman Nabi Adam sampai kelak bayi yang lahir menjelang hari kiamatpun telah melakukan syahadat yang sama.

   Setelah kita dewasa, untuk masuk ke dalam agama Islam, kita perlu bersyahadat sekali lagi, yaitu: asyhadu anlaa ilahaa illallah (aku bersaksi tidak ada ilah selain Allah) sebagai syahadat tauhid, wa asyhadu ana muhammadarrasulullah (dan aku bersaksi muhammad adalah rasulullah) sebagai syahadat rasul. 

   Jika kita lihat, ternyata syahdat tauhid kita waktu mengikrarkan diri sebagai muslim, berbeda dengan syahadat kita waktu di alam arwah. Bedanya, di alam arwah  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menasbihkan diriNya sebagai Rabb, sedangkan di syahadat kita di dunia, kita diwajibkan mengakui اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sebagai ilah. Kenapa harus seperti itu?

   Kita di sekolah telah diberi tahu oleh guru agama, bahwa definisi 'Rabb' adalah pencipta, pemelihara, dan pengatur. Jadi sewaktu di alam arwah,  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bertanya kepada kita: bukankah Aku ini yang menciptamu, yang memeliharamu, yang mengaturmu? Dan kita jawab: benar. Artinya, kita hadir di dunia ini kerena dicipta olehNya. Seluruh proses pembentukan kita di dalam rahim adalah atas kehendakNya, bukan tanpa sengaja. Kita bisa bertahan hidup karena dipelihara olehNya. Dia yang memberi kita rizqi, Dia yang memelihara sehingga jantung kita tetap berdetak meski diluar kehendak kita. Dia yang memelihara kita dari radiasi matahari, dari keterbatasan oksigen, dsb, dsb. Dan semua itu Dialah yang mengatur, dan untuk keseimbangan alam semesta ini, Dia telah membuat aturan yang maha hebat.

   Sedangkan definisi 'Ilah' adalah zat yang diibadahi. Maka di dunia ini kita mengikrarkan bahwa kita hanya beribadah karena  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Kita sugah berjanji untuk menghamba hanya kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى saja.

  Jika kita lihat secara urutan, kita bersaksi bahwa اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى adalah Rabb kita, kemudian baru kita bersaksi bahwa kita hanya beribadah kepada  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى saja. Ada rahasia apa di balik ini? Ternyata  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkehendak agar kita menyadari dahulu bahwa  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى telah menciptakan, memelihara, dan mengatur kita. Dia telah memberi segala kebaikan kepada kita. Hak- hak kita sebagai makhluk dijamin oleh  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى . Maka kewajiban kita di dunia ini adalah hanya beribadah kepadaNya saja, tidak boleh ke yang lain. Jika setiap diri kita menyadari bahwa hanya  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى lah yang memenuhi hak- hak kita, maka sangat wajar jika kita beribadah hanya kepadaNya.

   Mudah- mudahan dengan pemahaman di atas, keikhlasan kita dalam beribadah akan semakin bertambah. Dan setelah tahu makna syahadat tauhid (ini hanya sebagian kecil saja), mudah- mudahan akan semakin mudah memahami arti dua kalimat syahadat. Selanjutnya kita harapkan faham 'cukup mengucapkan dua kalimat syahadat pasti masuk syurga' akan terkikis, sehingga ghirah kita dalam beragama Islam terus terjaga. 

   Apa pemahaman itu sudah cukup? Tentu belum. Kita bisa menemui pembahasan tentang 'makna syahadat' di tempat dan kesempatan lain oleh banyak ulama. Dan pembahasan di atas baru mencakup syahadat tauhid, belum membahas tentang syahadat rasul. Jadi? Mudah- mudahan  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi kita petunjuk, amiin.


Selasa, 28 Agustus 2012

Sama- sama Salah, Iblis Degradasi, Adam Promosi

بِسْمِ اللَّـهِ الرَّ‌حْمَـٰنِ الرَّ‌حِيمِ

SAMA- SAMA SALAH, IBLIS DEGRADASI, ADAM PROMOSI

  Banyak yang bertanya- tanya, kenapa hanya karena satu kesalahan saja, Iblis dihukum dengan neraka oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Sedangkan manusia yang katanya tempat salah dan dosa, malah dengan mudah اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memaafkannya. Banyak yang meragukan keadilan اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى , meskipun secara tidak langsung ataupun tidak sengaja. Padahal kita harus yakin bahwa اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى itu Maha Adil. Lalu bagaimana cara menghilangkan keraguan itu, mestinya ada penjelasan yang tepat.

  Awal ceritanya kita sudah paham semua. اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى berkehendak menciptakan manusia, yang saat itu diberi nama Adam oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Maka sebagai bekal melaksanakan tugas tersebut, Adam a.s diajarkan nama- nama benda seluruhnya oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Adam a.s pun lulus dalam fit and proper test tingkat awal, mengalahkan malaikat. Maka oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى para malaikat disuruh tunduk pada Adam a.s. Seluruh malaikat bersujud tanda tunduk kepada Adam a.s. Hanya Iblis dari golongan jin yang tidak mau tunduk. اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bertanya kepada iblis kenapa tidak mau sujud, yang artinya menentang perintah اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Dengan sombong Iblis memproklamasikan diri bahwa dia lebih hebat dari Adam a.s, sehingga tidak patut bersujud kepada Adam a.s (QS 7: 12). Dia mengingkari sifat اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yang Maha Tahu. اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى  pun menghukum Iblis dengan mengusirnya dari Jannah dan memasukkannya ke dalam neraka. Iblis yang dendam kepada Adam a.s meminta ijin kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى agar ditangguhkan hukuman masuk nerakanya, dan menggoda Adam serta anak keturunannya supaya mengikutinya membangkang kepada اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Dan  اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى pun mengabulkannya.

  Kemudian Adam pun ditempatkan di Jannah oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Segala keinginannya terpenuhi. Dan Adam a.s pun dianugerahi istri oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى yaitu Hawa. Hanya dua larangan dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, yaitu mendekati sebuah pohon kayu (QS 2: 35), yang kedua tidak menuruti bujuk rayu Iblis sang setan (QS 7:22; QS 20: 117).

  Iblis mulai menjalankan misinya. Akhirnya, singkat cerita. Adam a.s pun terbujuk rayuan Iblis, dia menuruti bujukan Iblis dan memakan buah dari pohon kayu tersebut. Adam a.s pun melanggar perintah اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

   Jika kita perhatikan, Iblis hanya bersalah satu kali, tidak mau sujud kepada Adan a.s. Sedangkan Nabi Adam a.s setidaknya melakukan dua kesalahan, yaitu memakan buah pohon kayu, dan mengikuti ajakan Iblis. Kedua perintah itu datang dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى secara langsung.

  Tapi yang menjadi menarik adalah Iblis diusir dari Jannah, artinya masuk neraka, sedangkan Adam a.s justru diangkat menjadi 'Khalifah fil Ardh'. Artinya karena kesalahan itu, Iblis turun derajatnya, sedangkan Adam a.s mendapat posisi yang terhormat, sebagai pemimpin di dunia ini, termasuk memimpin bangsa jin, bangsanya Iblis. Mari kita lihat ayat- ayat Al Qur'an yang menceritakan penempatan kedua tokoh legendaris ini.

Iblis:

QS 7: 13 

قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ‌ فِيهَا فَاخْرُ‌جْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِ‌ينَ 

 Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". (13)

QS 15: 34-35

  ﴾  قَالَ فَاخْرُ‌جْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَ‌جِيمٌ ﴿٣٤﴾ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٣٥

  Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, (34) dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat". (35)

QS 17: 63

  قَالَ اذْهَبْ فَمَن تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَّوْفُورً‌ا 

 Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (63)

QS 38: 77

﴾ قَالَ فَاخْرُ‌جْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَ‌جِيمٌ ﴿٧٧

 Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, (77)

 Adam:

QS 2: 36

﴾ فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَ‌جَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ مُسْتَقَرٌّ‌ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ ﴿٣٦

Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (36)

QS 7: 24

 ﴾ قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ مُسْتَقَرٌّ‌ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ ﴿٢٤ 

  Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (24)

 QS 20: 123

﴾  قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ﴿١٢٣ 

  Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (123)

  Dari ayat- ayat di atas, ternya kata- kata dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sedikit berbeda. Tapi meskipun sedikit, artinya sangat jauh berbeda. Untuk Iblis, اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memakai kata 'turunlah' (ihbith) dan 'keluarlah' (fakhruj). Sedangkan untuk Adam a,s hanya ada kata 'turunlah' (ihbith). Allahu a'lam, apa yang dimaksud 'turun' ini, apakah Adam disuruh turun ke Jannah yang lebih rendah tingkatannya (bumi), atau memang turun ke tempat yang lebih rendah. Yang jelas Adam a.s tidak disuruh keluar oleh اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى.

  Apakah turun ke bumi itu suatu hukuman? Kita perhatikan lagi QS 2: 36 dan QS 7: 24, di situ اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi tahu bahwa di bumi itu 'ada tempat kesenangan'. Jadi berbeda sekali dengan tempatnya Iblis (QS 17: 63). Aneh jika tempat hukumannya ada tempat untuk 'kesenangan hidup'.

  Ternyata Adam a.s diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugasnya sebagai Khalifah fil Ardh sesuai fitrahnya. Bukankah ini sebuah kenaikan pangkat? Dari seluruh makhluk اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى hanya manusia yang diberi amanah sangat besar dan paling mulia ini. Ya, artinya tidak ada kedudukan yang lebih mulia lagi bagi makhluk اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى di atas kedudukan manusia.

  Kok bisa, sama- sama salah tetapi mendapat ganjaran berbeda? Ternyata kuncinya ada pada QS 2: 37,

﴾  فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّ‌بِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّ‌حِيمُ ﴿٣٧

  Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (37)

Yang teksnya ada di  QS 7: 23, yaitu:

قَالَا رَ‌بَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ‌ لَنَا وَتَرْ‌حَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِ‌ينَ 

 Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (23)

Bandingkan dengan reaksi Iblis ketika menerima vonis bersalah dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى

QS 7: 16

﴾  قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَ‌اطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ﴿١٦

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, (16)

QS 15: 39- 40

﴾قَالَ رَ‌بِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْ‌ضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ﴿٣٩﴾ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ ﴿٤٠

Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, (39) kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". (40)

Dan ayat- ayat yang senada pada QS 17: 62, serta QS 38: 82- 83.

  Inilah bedanya Adam a.s dengan Iblis. Iblis ketika melakukan kesalahan dan mendapat murka dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى bukannya menyadari kesalahannya malah semakin menjadi- jadi alias mbalelo. Sedangkan Adam a.s begitu menyadari kesalahannya segera bertaubat dan meminta ampunan dari اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Beginilah seharusnya sikap pemimpin bumi ini yang mewakili اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Ketika sikapnya tidak sesuai keinginan Sang Raja yang sesungguhnya, mestilah meminta maaf kepadaNya, dan segera memperbaiki diri. Di sini Adam a.s lulus fit and proper test tahap kedua. Seakan- akan Adam a.s naik jabatan setelah melakukan 'magang' di Jannah. Atau seperti orang yang telah beranjak dewasa dari masa kanak- kanaknya, di mana pada waktu masih anak- anak segala kebutuhannya dipenuhi oleh 'Wali'nya. Kini Adam a.s telah 'dewasa', mampu untuk mengemban amanah Khalifah fil Ardh.

Wallahu a'lam bishshawab. 

Kamis, 23 Agustus 2012

Musim Berdagang Kaum Quraisy


MUSIM BERDAGANG KAUM QURAISY

سورة قريش
بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ﴿١﴾ 
 إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ﴿٢﴾ 
 فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَـٰذَا الْبَيْتِ ﴿٣﴾ 
 الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿٤﴾
  1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,
  2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.
  3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah).
  4. Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.  
Memang banyak keuntungan berada di ‘tanah para nabi’, terutama dalam merenungi kondisi alam pada saat ayat- ayat suci tersebut diturunkan.
Di Indonesia yang hanya mempunyai 2 musim, kita tidak bisa merasakan bagaimana kondisi musim panas dan dingin seperti di Qatar ini. Kebetulan Qatar dan Mekah berada di garis lintang yang hampir sama, jadi keadaan musimnya tak jauh berbeda.
Kini saya bisa merasakan dan memahami kebiasaan orang Quraisy waktu itu dalam berdagang (seperti yang tercantum pada tafsir yang dikeluarkan Departemen Agama RI). Dijelaskan pada musim dingin orang- orang Quraisy berdagang ke Yaman. Dan pada musim panas mereka berdagang ke negeri Syam (sekitar Syiria sekarang). Dan pada musim haji mereka berdagang di kampung halaman mereka, Mekah.
Tentu bagi yang pernah tinggal di sini alasannya jadi sangat mudah dipahami, pada musim dingin ketika matahari beredar di sebelah selatan, mereka pergi ke arah selatan, hitung- hitung sambil mencari kehangatan. Pada musim panas mereka bepergian ke arah utara, tentu harapannya agar mendapat kesejukan. Sedangkan pada musim haji mereka tak perlu kemana- mana, orang- orang dari seluruh pelosok negeri mendatangi kampung halaman mereka.
Disebutkan bahwa aktivitas dagang ini sudah menjadi kebiasaan, artinya sudah dilakukan sejak lama. Konon sistem dagang seperti ini dipelopori oleh Hisyam bin Abdul Manaf, kakek buyut Rasulullah SAW. Hal ini dimungkinkan karena adanya perjanjian damai antara kaum Quraisy dengan bani- bani/ suku- suku baik yang menjadi tujuan dagang mereka maupun yang tinggal di sepanjang perjalanan. Sehingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan aman.* Suku di luar Quraisy membutuhkan perjanjian damai dengan suku Quraisy agar mereka dapat melaksanakan ibadah haji. Artinya bahwa faktor Ka’bahlah yang melancarkan urusan ini. Makanya pada ayat ke-3 dan 4 اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى menitah suku Quraisy untuk beribadah kepada Sang Pemilik Ka’bah.
Dalam berdagangpun seringkali mereka tidak tanggung- tanggung dalam membawa barang dagangan. Maklumlah jarak yang mereka tempuh bisa lebih dari sebulan perjalanan. Sebagai contoh saat sebelum terjadi perang Badar, kafilah dagang mereka yang dipimpin Abu Sufyan membawa unta sekitar 1000 ekor. Termasuk juga para pengawalnya. Seluruh pria dan wanita Quraisy yang mempunyai saham ikut serta. Sehingga totalnya mencapai 50.000 dinar. Sebagai perbandingan, saat itu dalam hukum Islam seorang pencuri dikenakan hukum potong tangan jika mencuri uang atau sesuatu yang minimal setara dengan ¼ dinar.*
Sebuah praktek dagang yang lumayan jitu. Ini pula yang menyebabkan mereka sangat terampil dalam menghitung piutang dan riba. Dan tentu saja bukan karena itu mereka mendapat predikat kaum jahiliyah (bodoh).
 
 
*Sumber: Siroh Nabawiyah oleh Muhammad Husein Haikal.

Selasa, 21 Agustus 2012

Menjadi Tuan Sejenak



MENJADI TUAN SEJENAK

Ah, sudah cukup lama rasanya aku menjadi bawahan. Sekali- kali ingin rasanya mencicipi enaknya jadi bos. Tapi apa daya memang nasibku sementara ini masih di level ini. Hanya ada satu cara instan untuk segera menjadi bos, berkhayal.
Menciptakan khayalan
Sambil duduk santai di sofa aku mulai berkhayal. Ini adalah aktivitas ‘menciptakan sesuatu tanpa bahan baku sama sekali’. Gampang, tinggal menghayalkan beberapa wujud. Mulai, dan 'BLARRR!!!' (bahasa Inggrisnya BANG!) tiba- tiba saja terbentuk ruang kehidupan dalam khayalanku. Biar dibilang kreatif, aku membayangkan tokoh yang beda dengan diriku. Bentuknya kotak, bisa bergerak, punya tangan, kaki, dan alat- alat indera lainnya. Ah ternyata aku tidak mampu menciptakan tokoh yang sama sekali beda denganku, tetap saja banyak kesamaannya. Lalu aku ciptakan pasangannya. Hampir sama, cuma aku beri warna yang berbeda, lebih mencolok. Kemudian aku beri nama, emh, yang jantan namanya Janggelut, yang betina Jenggirat.
Aku sudah menjadi bos sekarang. Aku bisa memperlakukan mereka sesukaku. Menyuruh mereka bergerak, berlari, menari, tidur, dsb, dan mereka tak akan mampu menolak, pasti mereka lakukan. Kapanpun aku menyudahi khayalanku, mereka pasti hilang. Aku tuan bagi mereka.
Oh, ternyata Janggelut lapar, dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Baiklah, aku tumbuhkan sebuah pohon di dekat ia berdiri. Pohon itu segera berbuah. Aku suruh Janggelut memetik dan memakannya. Hei, Janggelut menuruti perintahku, padahal aku yakin dia tidak bisa mendengarku, melihat maupun merasakan sentuhanku. Bagaimana bisa, alat inderanya aku ciptakan bukan untuk bisa menginderaku, dan akupun tak bisa menciptakan indera yang membuat tokoh ciptaanku itu bisa menginderaku. Akhirnya setelah memakan buah tadi Janggelut merasa kenyang. Sebagian dari buah itu dia berikan kepada Jenggirat, tokoh yang sangat dicintainya. Hei, kali ini beda, Janggelut bisa melihat Jenggirat, mendengar suara yang dikeluarkannya, bisa menyentuhnya, dan bahkan bisa jatuh cinta kepadanya. Yah, mungkin karena mereka sejenis, jadi bisa saling merasakan. Aku nggak bakalan jatuh cinta sama Jenggirat, secantik apapun dia di mata Janggelut.
Kini Janggelut penasaran, ingin tahu siapa aku, ingin tahu dimana aku, ingin tahu seperti apa wujudku. Aku katakan kepadanya aku ini yang membuat kamu ada dan juga meniadakanmu.
Dimana aku, aku dekat denganmu. Aku tau apa yang kau lakukan, tak mungkin aku tak tau. Tapi aku tidak dalam duniamu. Duniamu juga tidak ada di dalam tubuhku, karena jika ada orang sepertiku mencarimu di dalam tubuhku pasti tidak akan ketemu. Duniamu juga tidak ada di luar tubuhku, karena jika ada yang mencari di luar tubuhku, tidak akan ada yang menemukanmu. Duniamu bukan bagian dariku dan aku bukan bagian dari duniamu. Yang jelas aku sedang duduk santai di sofa, di sebelah manamu dan seperti apa sofanya kamu nggak bakalan paham, sebab bahannya, bentuknya, dan empuknya tidak pernah kamu temui di duniamu. Dan kau tak mungkin masuk ke duniaku.
Sedangkan wujudku jauh beda dengan segala benda yang ada di duniamu. Kamu bukan apa- apa dibanding aku. Kamu terbuat dari bukan apa- apa. Dan memang kamu bukan apa- apa.
Ciptaan ALLAH SWT
Ya ALLAH, aku tidak bisa menciptakan seperti apa yang Engkau ciptakan. Tentu ciptaanMu jauh lebih canggih dibanding apa yang bisa aku ciptakan. Khayalanku bukan apa- apa dibanding aku, dan aku bukan apa- apa dibanding Engkau.  CiptaanMu bisa melakukan apa yang mereka inginkan, sedangkan ciptaanku jika aku lupakan mereka akan diam.
Engkau mampu menciptakan benda tak terhingga jumlahnya, ukurannya. Engkau mampu mengurus seluruh ciptaanMu tanpa lengah sedikitpun. Engkau mengatur mereka semua, memelihara, mengetahui, dan berkehendak dalam satu waktu yang bersamaan.
Maha Besar Engkau, Sang Pemilik Segala Nama dan Sifat Yang Baik.