بِسْمِ اللَّـهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
JOKO BODHO BICARA TENTANG PENCIPTAAN ALAM SEMESTA
Dalam legenda Jawa, Joko Bodho adalah seorang anak yang memiliki IQ rendah, sehingga selalu salah dalam memahami segala sesuatu. Namun di sini saya menyebut diri sebagai Joko Bodho tidak separah tokoh dalam legenda tersebut. Saya hanya mengakui bahwa diri saya sangat bodoh, sehingga pantas diberi panggilan Joko Bodho. Jadi tulisan berikut adalah hasil pemikiran orang bodoh yang hanya sedikit mengetahui teori- teori modern.
Penciptaan Alam Semesta Tidak Memerlukan Bahan Baku
Bilangan 0 (nol) adalah penemuan besar yang dicapai oleh manusia. Angka ini mempunyai banyak fungsi, antara lain membatasi banyaknya angka yang dipakai sehingga menjadi 10 angka saja (yaitu 1,2,3,4,5,6,7,8,9, dan 0 itu sendiri). Sebelumnya untuk menyatakan bilangan milyaran, manusia membutuhkan banyak sekali angka/ simbol. Selain itu, angka 0 juga menunjukkan ketiadaan. Segala sesuatu yang tidak ada bisa dilambangkan dengan angka 0 ini. Jadi, jika saya mengatakan bahwa alam semesta diciptakan tanpa bahan baku, maka bisa saya bilang bahwa alam semesta diciptakan dengan bahan baku 0.
Kita lihat rumus sederhana berikut ini:
- 1 + (-1) = 0, sama saja jika kita menulis:
- 100 + (-100) = 0, atau apapun angkanya:
- 36719703 + (-36719703) = 0
Lalu kita lihat persamaan di bawah ini:
- 0 = 1 + (-1), sama saja jika kita menulis:
- 0 = 100 + (-100), atau apapun angkanya:
- 0 = 36719703 + (-36719703)
Suatu saat, saya meminjam uang dari bank. Uang ini cukup untuk membeli sebuah mobil sedan baru. Padahal sesaat sebelum pinjaman itu cair, uang saya jauh dari cukup untuk membeli mobil itu. Lha terus dari mana datangnya uang ini? Ternyata saldo saya di bank jika disumarykan hasilnya adalah minus... Ini yang ada dalam pikiran Joko Bodho.
Memikirkan Terjadinya Pelangi
Pada jaman legenda Joko Bodho dulu, pelangi dianggap sebagai jalan bidadari yang mau turun ke bumi. Sekarang kita tahu bahwa pelangi adalah hasil dari pembiasan cahaya matahari oleh butiran- butiran air. Joko Bodho melihat pelangi tidak sekedar untuk menikmati keindahannya.
![]() |
Pelangi. Sumber foto: wikipedia.org |
----> warna cahaya matahari = warna pelangi
----> 0 = merah + jingga + kuning + hijau + biru + nila + ungu
----> merah + jingga + kuning + hijau + biru + nila + ungu = 0
Secara skala laboratorium, tentu kita pernah melakukan percobaan mengarahkan lampu senter ke arah prisma kaca. Dari cahaya senter yang asalnya tidak berwarna, setelah melewati prisma kaca tersebut akan membentuk 7 warna pelangi.
![]() |
Percobaan cahaya melewati prisma kaca. Sumber gambar: wikipedia.org |
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan
apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan
bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.
Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Lenyapnya Suatu Materi Tidak Mesti Bertemu Dengan Negatifnya
Dari pengamatan pelangi di atas, maka Joko Bodho berpikir bahwa materi bisa saja hilang tanpa harus bertemu dengan anti materinya. Atau bisa jadi, dan kemungkinan, yang terjadi adalah sangat komplek. Dimana gabungan beberapa materi bertemu dengan gabungan beberapa anti materi akan menjadikan beberapa materi tersebut lenyap. Atau mungkin anti materi dari sesuatu, atau kumpulan sesuatu ternyata berbentuk materi juga? Allahu a'lam bishshawab.
Kesimpulan Joko Bodho
Jika anda mempunyai ilmu tentang hal ini, maka Joko Bodho dengan senang hati akan belajar dari anda. Komentar anda sangat ditunggu, agar اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى memberi kita pemahaman yang lebih mendekati kebenaran.
Akhirnya Joko Bodho berkeyakinan bahwa jika alam semesta ini disatukan lagi, maka disana akan bertemu materi dan anti materi, entah bagaimana wujudnya. Yang jelas, Sang Pencipta yang telah menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan (0) mempunyai tekhnologi yang dengan mudah akan melenyapkannya (menjadikannya 0 kembali)...
Maka, pada hakekatnya kita ini adalah 0. Hanya اللَّـهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى sajalah yang 1.